UJOH BILANG – Surutnya Sungai Mahakam membuat jalan darat Mahakam Ulu (Mahulu)–Kutai Barat (Kubar) semakin vital. Saat speedboat dan longboat kesulitan mencapai kawasan hulu, jalur sepanjang 142,378 kilometer itu menjadi alternatif mobilitas warga dan distribusi logistik.
Namun, jalur tersebut belum sepenuhnya tuntas. Dari total 142,378 kilometer, sepanjang 102,378 kilometer telah ditangani berupa aspal dan semenisasi. Sekitar 40 kilometer lainnya masih berupa tanah dan agregat.
Kepala Dinas PUPR Mahulu Didik Subagya mengatakan pekerjaan masih berlangsung di sejumlah titik. Keseluruhan jalur ditargetkan tuntas pada 2027.
“Jalan yang sudah dikerjakan berupa aspal dan semenisasi sepanjang 102,378 kilometer,” kata Didik saat dikonfirmasi Media Kaltim, Sabtu (22/8/2026).
Saat Media Kaltim melintasi jalur tersebut, kondisi jalan belum seragam. Sejumlah ruas sudah disemenisasi dan dapat dilalui kendaraan. Namun, pada bagian lain pengendara masih harus melewati jalan agregat dan tanah.
Pekerjaan fisik juga terlihat berlangsung di sejumlah titik. Ada ruas yang sedang disemenisasi, sementara bagian lainnya masih dalam pengerjaan badan jalan dan fasilitas pendukung.
Kontur jalan naik-turun dengan sejumlah tanjakan dan turunan di kawasan yang dikelilingi hutan. Pengendara harus berhati-hati pada beberapa titik karena pekerjaan belum selesai dan badan jalan belum seluruhnya dapat digunakan secara normal.
Penyelesaian jalur darat semakin mendesak setelah debit Sungai Mahakam di wilayah hulu turun drastis akibat kemarau panjang. Di Long Pahangai hingga Long Apari, transportasi sungai tidak dapat beroperasi normal karena pendangkalan.
Dampaknya langsung terasa pada distribusi barang. Di Long Apari, pedagang harus menjemput barang dari Long Lunuk.
Ongkos carter Long Lunuk–Tiong Ohang mencapai Rp2,75 juta ditambah 25 liter BBM. Tujuan Noha Silat mencapai Rp4,25 juta ditambah 45 liter BBM. Sedangkan menuju Noha Tivab dan Long Apari, ongkos angkut mencapai Rp5,55 juta ditambah 65 liter BBM.
Harga kebutuhan pokok ikut melonjak. Beras kemasan 25 kilogram dijual Rp800 ribu hingga Rp850 ribu. Di Kampung Long Apari dan Noha Tivab, harganya bahkan mencapai Rp1 juta.
LPG 3 kilogram sempat menyentuh Rp250 ribu per tabung sebelum dilaporkan habis. Solar dan Dexlite juga kosong, sementara Pertalite eceran dijual sekitar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per liter di sejumlah titik.
Di tengah terganggunya transportasi sungai tersebut, jalan Mahulu–Kubar menjadi alternatif untuk membawa orang dan barang menuju wilayah hulu.
Didik mengatakan penyelesaian jalan diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap transportasi sungai sekaligus menekan tingginya biaya logistik.
“Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu berharap, dengan tuntasnya pembangunan jalan darat ini ketergantungan terhadap transportasi sungai bisa berkurang. Dampaknya juga akan menekan biaya angkut sembako dan BBM ke wilayah hulu yang selama ini melonjak saat sungai surut,” ungkapnya.
Jalur darat tersebut juga dibutuhkan untuk memperlancar mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi, hingga pelayanan pemerintah menuju kawasan pedalaman dan perbatasan.
Pemkab Mahulu bersama Pemprov Kaltim dan kontraktor terus mengerjakan ruas yang belum selesai. Kualitas pekerjaan juga terus dikawal agar jalur tersebut dapat digunakan secara optimal.
“Dengan selesainya 142,378 km jalan ini pada 2027, konektivitas Mahulu–Kubar diharapkan menjadi lebih kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Mahakam Ulu,” kata Didik. (MK)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.



