Rupiah Kembali Menguat, Dolar AS Tertekan Sentimen Politik dan Obligasi AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Kamis (5/11/2026), dengan kenaikan 86 poin atau 0,47 persen ke level Rp18.082 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan dolar di pasar global menjadi pemicu utama, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan turut memberikan sentimen positif bagi mata uang domestik.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan tekanan terhadap dolar AS membuka ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik.

“Penguatan ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut Amru, dolar AS mengalami tekanan setelah hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat memengaruhi sentimen investor. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat aset berdenominasi dolar menjadi relatif kurang menarik.

“Kondisi ini memberikan dukungan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.

Selain itu, pelemahan harga minyak dunia turut memberikan sentimen positif bagi rupiah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap biaya impor energi Indonesia sehingga membantu menjaga stabilitas eksternal perekonomian.

Meski demikian, penguatan rupiah masih dibayangi sejumlah faktor eksternal. Data ekonomi AS menunjukkan aktivitas ekonomi yang relatif kuat, sehingga pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Laporan ADP mencatat penambahan 86 ribu tenaga kerja swasta pada Oktober 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 69 ribu. Sementara itu, aktivitas sektor jasa AS masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks ISM Services PMI sebesar 54,5.

Kondisi tersebut membuat prospek kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.

READ  Pakar Hukum: Putusan MK Bersifat Final dan Mengikat

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu penopang penguatan rupiah. Perekonomian nasional pada kuartal III 2026 tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen.

Capaian tersebut juga melampaui perkiraan pasar. Amru menilai pertumbuhan yang lebih baik dari ekspektasi menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih cukup kuat, terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan ekspor.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih cukup kuat, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Kondisi ini turut memberikan kepercayaan bagi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Melihat kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, Amru menilai rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan. Namun, pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif mengikuti perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis juga menguat ke level Rp18.094 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.140 per dolar AS. (ANT/KN)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img