Ribuan Honorer Kukar Resmi Jadi PPPK, Tangis Haru Pecah di Bawah Terik Mentari Aji Imbut

TENGGARONG – Mentari pagi bersinar terang di langit Tenggarong Seberang. Seolah memberi restu bagi ribuan insan yang berdiri tegap dengan setelah hitam putih, di atas hamparan hijau rumput Stadion Aji Imbut, Senin (26/5/2025).

Di tengah semilir angin dan lantunan doa yang lirih, sebuah babak baru dalam hidup mereka resmi dimulai. Dari sekadar “honorer”, kini mereka telah sah menyandang status sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Hari ini adalah momen bersejarah bagi 3.870 orang pegawai. Dari guru, tenaga kesehatan, hingga tenaga teknis akhirnya sampai pada titik yang lama mereka tunggu. Di antara mereka, bahkan ada yang telah mengabdi lebih dari satu dekade. Menanti hari ini dengan sabar dan penuh harap.

Banyak mata yang basah, bukan oleh debu, melainkan oleh rasa syukur yang meluap-luap. Meski panas matahari begitu terik dan beberapa orang dari peserta pelantikan harus dibopong karena pingsan. Mayoritas peserta tetap teguh berdiri, meresapi detik demi detik momen sakral ini.

Upacara pelantikan ini dipimpin langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah, yang menyampaikan pesan kuat. Bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni, tapi panggilan jiwa untuk melayani masyarakat dengan disiplin dan integritas yang lebih tinggi.

“Pelantikan ini harus menjadi titik balik. Dari honor menjadi PPPK, tentu harus ada perbedaan. Ada semangat baru, pola pikir baru. Disiplin kerja itu kunci. Karena status ini bukan tanpa syarat, kontraknya tahunan dan harus dievaluasi,” tegas Bupati Edi Damansyah.

Suasana penuh haru menyelimuti stadion saat para pegawai membacakan surat keputusan dan mengucapkan sumpah jabatan berdasarkan agama masing-masing. Prosesi ini menjadi momen paling sakral yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai bagian dari aparatur negara.

READ  Usul Percantik Perkotaan dengan Manfaatkan CSR

Tak hanya pelantikan, para PPPK juga mendapat amanat untuk aktif dalam program Gerakan Etam Mengaji (Gema) sebagai bagian dari pembangunan moral dpan spiritual selama masa pengabdian mereka.

“Kita sudah lakukan pendataan pegawai mana yang bisa mengaji dan tidak. Jadi kita ikat mereka dalam perjanjian kerja untuk menjalankn program Gema. Karena ada salah satu point kerja itu berkaitan denhan akhlak,” tutupnya. (Adv)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor :Muhammad Rafi’i

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img