BONTANG – Remaja hingga anak sekolah kini menjadi kelompok pasien yang cukup banyak mendatangi Poli Jiwa RSUD Taman Husada Bontang. Kunjungan dari kelompok usia muda tersebut menjadi perhatian seiring meningkatnya jumlah pasien setiap tahun. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan bertambahnya kasus gangguan jiwa, melainkan juga dapat mencerminkan semakin terbukanya masyarakat mencari bantuan profesional untuk mengatasi persoalan kesehatan mental.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc., Sp.KJ., mengatakan pasien remaja cukup sering ditemui dalam pelayanan sehari-hari. Bahkan, sejumlah anak sekolah telah datang untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan mental mereka.
“Untuk sekarang ini, pasien yang datang ke poli ini rata-rata usia remaja, iya termasuk anak sekolah. Sudah ada beberapa anak sekolah yang datang ke sini,” ujar Dewi, Rabu (28/10/2026).
Selain remaja dan anak sekolah, pasien dewasa muda juga mulai memanfaatkan layanan tersebut. Dewi menyebut jumlah kunjungan ke Poli Jiwa RSUD Taman Husada terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Menurutnya, bertambahnya pasien tidak dapat langsung diartikan sebagai meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa di Kota Bontang.
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, kemudahan memperoleh informasi, serta keberanian untuk menyampaikan persoalan psikologis dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang mencari pertolongan medis.
Selama ini, masih ada anggapan bahwa Poli Jiwa hanya diperuntukkan bagi pasien dengan gangguan kejiwaan berat. Padahal, layanan tersebut juga dapat dimanfaatkan remaja maupun anak sekolah yang mengalami persoalan emosional atau psikologis.
Keluhan seperti kecemasan berlebihan, perubahan emosi, kesulitan tidur, maupun kesedihan berkepanjangan perlu mendapat perhatian apabila mulai mengganggu aktivitas belajar, hubungan sosial, dan kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, keluhan tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental tertentu. Pemeriksaan oleh tenaga profesional diperlukan untuk mengetahui kondisi pasien dan menentukan penanganan yang sesuai.
Dewi menilai keluarga dan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam memperhatikan kondisi psikologis anak dan remaja.
Orang tua maupun tenaga pendidik diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku atau kondisi emosional anak, terutama jika berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Pendampingan juga diperlukan agar anak merasa aman menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi tanpa takut mendapat penilaian negatif.
Menurut Dewi, masyarakat tidak perlu menunggu keluhan semakin berat untuk berkonsultasi. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memahami kondisi psikologis sekaligus memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Ia berharap meningkatnya kunjungan kelompok usia muda juga diikuti pemahaman masyarakat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.
“Agar masyarakat semakin memahami bahwa menjaga kesehatan jiwa, sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik,” pungkasnya. (Dwi/Adv)
Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S



