Sabtu, Juni 22, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Raja Kamboja Restui Hun Manet Jadi Perdana Menteri

KORANUSANTARA – Proses alih kekuasaan di Kamboja dimulai. Raja Kamboja Norodom Sihamoni mengeluarkan dekrit kerajaan untuk menunjuk Hun Manet sebagai Perdana Menteri (PM) menggantikan ayahnya, Hun Sen. Selanjutnya, tinggal menunggu persetujuan parlemen.

Rencananya, proses di parlemen dilakukan 22 Agustus. Untuk dapat menduduki kursi PM, Hun Manet dan kabinet yang dibentuknya harus didukung lebih dari separuh anggota parlemen. Ketentuan itu tampaknya cukup mudah. Sebab, dari 125 kursi di parlemen, sebanyak 120 kursi telah dikuasai Partai Rakya Kamboja (CPP), yang dipimpin sang ayah, Hun Sen.

Hun Sen menjadi PM sejak 1985 atau hampir empat dekade. Politikus 71 tahun itu selalu menang dalam pemilu. Sebab, dia dianggap punya kuasa atas partai-partai oposisi dan tokoh yang menentangnya. Banyak partai yang dibubarkan, dilarang ikut pemilu, dan para pemimpinnya ditangkap. Tidak sedikit pula tokoh oposisi yang akhirnya memilih meninggalkan Kamboja.

Dalam Pemilu 2023 yang digelar Juli lalu, CPP menang besar karena Partai Cahaya Lilin dilarang menjadi peserta. Padahal, saat ini partai itu adalah satu-satunya partai oposisi. Partai-partai kecil lainnya merupakan pendukung pemerintah.

Hun Sen menegaskan, dirinya tidak akan ikut campur tangan dalam kepemimpinan putranya nanti. Meski begitu, dia tidak serta merta hengkang dari dunia politik. Dia akan menjabat sebagai presiden senat awal tahun depan hingga 2033 nanti. Dengan jabatan barunya itu, Hun Sen otomatis menjadi kepala negara jika raja sedang berada di luar negeri.

’’Ini masih belum berakhir,’’ ujar salah seorang pemimpin terlama di dunia tersebut seperti dikutip Agence France-Presse.

Hun Manet adalah anggota komite permanen CPP dan telah menjadi komandan Angkatan Darat Kerajaan Kamboja sejak 2018. Sebelumnya, dia pernah bertemu dengan para pemimpin dunia termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping yang merupakan sekutu utama Kamboja.

Profesor Emeritus Carl Thayer dari Universitas New South Wales Australia mengatakan, Kamboja kemungkinan akan tetap dekat dengan Beijing. ’’Hun Manet bakal memiliki sedikit pilihan, selain menerima uluran tangan yang diberikan kepadanya, yaitu berupa ketergantungan pada Tiongkok untuk mempertahankan kekuasaan CPP,’’ ujar Thayer. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular