Senin, Februari 26, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pengembangan Rupiah Digital Masuki Tahap Eksperimentasi Teknologi

 

KORANUSANTARA – Bank Indonesia (BI) terus mematangkan persiapan mata uang rupiah digital alias Central Bank Digital Currency (CBDC). Sepanjang 31 Januari hingga 15 Juli 2023, BI melakukan consultative paper guna menampung pandangan masyarakat. Di antaranya dari perbankan dan institusi non-keuangan, asosiasi, kementerian/lembaga (K/L), akademisi, serta masyarakat umum.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, pengembangan rupiah digital akan memasuki tahap eksperimentasi teknologi atau proof of concept (POC), prototyping, piloting atau sandboxing, dan tinjauan kebijakan. Eksperimentasi pengembangan rupiah digital merupakan proses yang iteratif.

Iteratif merupakan proses melakukan perencanaan, membangun, menguji, menyempurnakan, dan meningkatkan produk agar mencapai hasil yang diinginkan. ”Dengan begitu, membuka peluang eksplorasi yang lebih luas atas berbagai alternatif desain dan memastikan nilai tambah yang paling optimal bagi Indonesia,” kata Erwin, Rabu, 27 Desember 2023.

Terdapat enam kategori pengembangan rupiah digital. Yakni, teknologi, akses, penerbitan dan pemusnahan, transfer dana, serta kapabilitas teknis dan aspek. Terakhir, implikasi rupiah digital terhadap sistem pembayaran, stabilitas sistem keuangan, dan moneter.

Tata cara kepesertaan perlu dirancang secara seimbang. Fungsi validating node perlu didistribusikan secara tepat guna memitigasi single point of failure. Peran wholesaler dan non-wholesaler perlu dipisahkan untuk menjaga stabilitas.

Pembukaan akses kepesertaan kepada nonbank akan mendorong inovasi dan persaingan usaha yang sehat. Meski, penetapan jumlah validator tetap perlu menimbang efektivitas, efisiensi, skalabilitas, dan resiliensi.

Masukan terkait peran penerbitan dan pengelolaan wallet perlu dialokasikan secara tepat. Wallet dapat diterbitkan langsung oleh BI. Sementara itu, pengelolaannya bisa diserahkan kepada pelaku industri.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyampaikan, saat ini sudah masuk POC tahap I rupiah digital yang dibagi tiga tahap. Yakni, tahap wholesale, wholesale dengan sekuritas, dan wholesale dengan ritel. BI membangun sistem untuk uji coba POC dengan penyedia teknologi.

Pada fase tersebut, pelaku industri belum terlibat. ”Setelah POC tahap I, baru kita lakukan policy review yang dilanjutkan uji coba. Nah, pada saat uji coba nanti, industri akan mulai terlibat,” jelasnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, fokus dalam POC tahap I adalah mencetak dan mengedarkan uang digital dengan membentuk sistem khazanah digital. Bisa melalui blockchain, distributed ledger technology (DLT), maupun tokenisasi. Dengan begitu, akan memitigasi single point of failure, mempercepat proses transaksi, dan memastikan keamanan.

Dalam tahap uji coba, BI akan memilih pelaku-pelaku industri besar sistem pembayaran lebih dulu. Pembentukan rupiah digital dilakukan dengan subscribe. Setelah itu, otomatis pemindahan dari RTGS bank ke khazanah digital rupiah. ”Misal bank A mau subscribe Rp 1 triliun digital. Bisa memindahkan rekening bank itu di BI ke rekening digital. Dan, otomatis sudah terdistribusi. Proses transaksinya di DLT sudah decentralize ke pelaku yang besar,” ucapnya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular