Minggu, Juli 14, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pendapatan Premi Asuransi Turun Pascapandemi

KORANUSANTARA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penurunan akumulasi pendapatan premi sektor asuransi selama periode Januari sampai Agustus 2023. Meski demikian, pertumbuhan kinerja industri masih positif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menuturkan, akumulasi pendapatan premi sektor asuransi mencapai Rp 203,42 triliun. Jumlah tersebut turun 1,20 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Yang mampu tumbuh 2,10 persen year-on-year (YoY).

Begitu pula pertumbuhan akumulasi premi asuransi jiwa yang terkontraksi 6,58 persen YoY dengan nilai Rp 118,30 triliun. ’’Didorong oleh normalisasi kinerja pendapatan premi pada lini usaha PAYDI (produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi),” ucap Ogi.

Di sisi lain, akumulasi premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh positif. Mampu meningkat 7,38 persen YoY menjadi Rp 85,13 triliun. Sedangkan pada Agustus tahun lalu hanya Rp 79,27 triliun.

Ogi memastikan, secara umum permodalan di industri asuransi terjaga. Industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan risk based capital (RBC) masing-masing 452,31 persen dan 310,63 persen. ’’Jauh di atas threshold sebesar 120 persen,” ujarnya.

Presiden Direktur AXA Mandiri Handojo G. Kusuma menyatakan, kinerja perusahaan masih tumbuh lebih baik. Berdasar laporan keuangan Agustus 2023, perseroan mencatatkan pendapatan premi Rp 7,8 triliun, naik dibandingkan Agustus tahun sebelumnya sebesar Rp 8,35 triliun.

Hasil investasi justru tumbuh signifikan secara tahunan. Dari Rp 1,02 triliun menjadi Rp 2,6 triliun. ’’Saya kira untuk prudent investment policy itu yang paling penting. Dan kita mengikuti dari policy ESG. Membuat investasi kita juga sehat. Mayoritas aset kita ada di obligasi pemerintah,” ungkapnya dalam peluncuran Asuransi Mandiri Flexi Proteksi di One Satrio, Selasa, 10 Oktober 2023.

Beban klaim dan manfaat mengalami kenaikan. Yakni, Rp 8,05 triliun dengan porsi terbesar klaim penebusan unit senilai Rp 6,59 triliun. Lalu, klaim dan manfaat dibayar sebesar Rp 1 triliun. ’’Klaim naik tidak drastis seperti di industri. Kita bisa bilang masih normal,” ujarnya.

Menurut dia, mayoritas klaim kesehatan. Sejalan dengan pola berobat masyarakat pascapandemi yang memilih datang ke rumah sakit.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Generali Indonesia Vivin Arbianti Gautama mengatakan, penetrasi yang dilakukan industri asuransi membuahkan hasil. Terutama langkah menghadirkan produk dengan biaya terjangkau. ’’Boleh dibilang, dari total premi baru didominasi besmart lite (asuransi premi terjangkau, Red) sejak produknya diluncurkan. Kontribusinya sekitar 60 persen,’’ ucapnya di Surabaya.

Untuk periode Januari hingga Agustus 2023, Generali Indonesia telah membayarkan total klaim jiwa dan kesehatan senilai Rp 761,4 miliar untuk lebih dari 165 ribu kasus klaim. Dari angka klaim yang telah dibayarkan tersebut, terjadi kenaikan pada klaim kesehatan sebesar 52,13 persen (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular