
TENGGARONG – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) Ke-46 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berpotensi menggerakkan perekonomian daerah. Selama 12 hari penyelenggaraan, perputaran uang dari belanja kafilah diperkirakan mencapai Rp1,8 miliar.
Potensi tersebut dihitung berdasarkan perkiraan kehadiran sekitar 1.516 kafilah dari berbagai kabupaten dan kota di Kaltim. Dengan asumsi setiap orang membelanjakan Rp100 ribu per hari selama berada di Kukar, nilai transaksi diproyeksikan mencapai angka tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan MTQH tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga kesempatan bagi daerah untuk memperkenalkan potensi pariwisata sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong kesiapan berbagai sektor pendukung agar mampu memberikan pelayanan optimal kepada peserta dan tamu yang datang.
Sunggono mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kukar untuk memastikan pembinaan terhadap unsur-unsur yang bergerak di sektor pariwisata berjalan dengan baik.
Pembinaan tersebut menyasar penggiat wisata serta pelaku usaha, termasuk pengelola hotel, penginapan, dan rumah makan. Kesiapan mereka dinilai penting karena akan berhadapan langsung dengan kebutuhan para tamu selama pelaksanaan MTQH.
“Saya beberapa hari ini bersama dengan teman-teman Dinas Pariwisata. Pertama memastikan bahwa upaya mereka dalam rangka membina semua struktur yang ada di bidang pariwisata ini berjalan, baik penggiat wisata, baik pelaku usaha perhotelan, rumah makan dan lain-lain,” ungkapnya.
Selain sektor perhotelan dan kuliner, aktivitas ekonomi juga berpeluang dirasakan pelaku usaha transportasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rangkaian MTQH akan dilengkapi Pawai Ta’aruf dan pameran UMKM. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang promosi bagi produk lokal sekaligus membuka peluang transaksi selama tamu dari berbagai daerah berada di Kukar.
Meski demikian, angka Rp1,8 miliar masih berupa estimasi awal berdasarkan jumlah kafilah dan asumsi pengeluaran harian. Perhitungan tersebut belum memasukkan potensi belanja pengunjung maupun masyarakat yang terlibat dalam rangkaian kegiatan.
Dengan demikian, peluang perputaran uang selama MTQH berpotensi lebih luas karena aktivitas ekonomi tidak hanya bergantung pada belanja peserta.
Di sisi lain, Sunggono menilai penyelenggaraan MTQH harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat sektor pariwisata Kukar secara berkelanjutan.
Menurutnya, pembinaan terhadap pelaku usaha dan penggiat wisata telah memberikan gambaran mengenai kesiapan sektor pendukung. Namun, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), khususnya di lingkungan Dinas Pariwisata, masih perlu menjadi perhatian.
Penguatan SDM dibutuhkan agar potensi wisata yang dimiliki Kukar dapat dikelola dan dipromosikan secara lebih optimal. Dengan begitu, dampak kegiatan besar seperti MTQH tidak berhenti
setelah seluruh rangkaian acara selesai.
“Yang mungkin jadi PR ke depan adalah bagaimana itu bisa lebih ditingkatkan. Karena memang di antaranya sumber daya teman-teman di Dispar memang harus kita lebih dorong supaya mereka bisa lebih optimal,” jelasnya.
Pemerintah daerah berharap aktivitas ekonomi selama MTQH dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama pelaku usaha lokal. Pada saat bersamaan, peningkatan kualitas pengelolaan pariwisata diharapkan mampu memperkuat kontribusi sektor tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sunggono menegaskan, optimalisasi pariwisata tidak cukup hanya dilakukan ketika ada kegiatan berskala provinsi. Pembinaan dan peningkatan kapasitas SDM harus terus berjalan agar potensi wisata dapat memberikan nilai ekonomi dalam jangka panjang.
“Harapannya tadi saya bilang, kita bisa optimalkan SDM mereka untuk meningkatkan pendapatan daerah,” pungkasnya. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R



