BONTANG – Pasien yang menjalani pengobatan gangguan kesehatan jiwa diingatkan tidak menghentikan konsumsi obat secara sepihak meskipun kondisinya mulai membaik. Penghentian mendadak tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko kekambuhan atau menimbulkan keluhan akibat putus obat. Penanganan gangguan jiwa membutuhkan waktu, sementara pengurangan dosis harus dilakukan berdasarkan evaluasi medis.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiater RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc., Sp.KJ., mengatakan obat-obatan psikiatri memiliki cara kerja dan waktu respons yang berbeda, bergantung pada jenis obat serta kondisi pasien.
Menurutnya, sebagian obat membutuhkan waktu beberapa minggu sebelum manfaat pengobatan dirasakan secara optimal. Karena itu, pasien perlu mengonsumsi obat secara teratur sesuai dosis dan jadwal yang ditetapkan dokter.
“Kalau di bagian psikiatri tidak bisa sembarangan. Obat yang didapat pasien harus dihabiskan dan diminum secara rutin. Obat ini berbeda dengan obat penyakit lainnya yang beberapa kali diminum bisa langsung sembuh. Obat psikiatri membutuhkan waktu untuk bekerja,” ungkap Dewi, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, pada jenis pengobatan tertentu, perubahan kondisi pasien baru mulai terlihat setelah beberapa minggu, bahkan dapat membutuhkan waktu sekitar empat minggu.
Selama proses tersebut, dokter akan memantau perkembangan gejala, respons terhadap obat, serta kemungkinan efek samping yang dialami pasien.
Dewi mengingatkan, berkurangnya keluhan bukan berarti pengobatan dapat langsung dihentikan. Pasien tetap perlu menjalani terapi sesuai rencana yang telah ditentukan.
Apabila kondisi pasien sudah stabil dalam jangka waktu tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penyesuaian dosis berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Setelah pasien minum obat secara teratur dan kondisinya bisa dipertahankan tetap stabil tanpa masalah, nanti dosis obatnya akan kita turunkan sedikit demi sedikit. Baru akhirnya bisa dihentikan,” jelasnya.
Menurut Dewi, pengurangan dosis dilakukan secara bertahap untuk melihat apakah kondisi pasien tetap terkendali setelah penggunaan obat dikurangi.
Namun, tidak semua pasien memiliki durasi pengobatan yang sama. Sebagian membutuhkan terapi lebih panjang, bergantung pada diagnosis, riwayat kekambuhan, dan respons terhadap penanganan.
Karena itu, keputusan mengurangi atau menghentikan obat harus dilakukan bersama dokter yang menangani pasien.
Selain kedisiplinan pasien, dukungan keluarga juga diperlukan selama proses pengobatan. Keluarga dapat membantu mengingatkan jadwal konsumsi obat, memperhatikan perubahan kondisi, serta mendampingi pasien menjalani pemeriksaan lanjutan.
Dewi mengingatkan pasien yang merasa kondisinya membaik tetap berkonsultasi sebelum mengubah dosis atau menghentikan pengobatan. (Dwi/Adv)
Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S



