Sabtu, Mei 25, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Mahyudin, Menyusul Balikpapan?

Catatan Rizal Effendi

WAKIL Ketua DPD RI Dr H Mahyudin berbuka puasa dengan  sejumlah tokoh masyarakat. Acaranya berlangsung di Hotel Bluesky Balikpapan, Selasa (2/4) kemarin. Cukup meriah, maklum yang mengundang siapa dulu.

Ini juga bukan acara buka puasa biasa. Ada maksud lain dari sohibul hajat. Mahyudin, mantan bupati Kutai Timur (Kutim) ini lagi berniat mengikuti pemilihan gubernur (Pilgub) Kaltim 2024. Hal itu dia sampaikan kepada undangan sembari meminta doa restu.

“Saya mohon doa restunya, setelah salat istikharah, petunjuk dari guru dan kiai dan restu dari ibu, saya memutuskan akan mengikuti kontestasi Pilgub Kaltim 2024,” ujar Mahyudin yang langsung mendapat aplaus  para undangan.

Menurut tokoh kelahiran Tanjung, Kalsel, 54 tahun silam itu, sebenarnya dia sudah ingin istirahat bergelut di bidang politik. “Sudah 24 tahun saya berkiprah, maunya sekarang fokus beternak dan tanam sawit.  Tapi ternyata ada panggilan yang membuat saya harus kembali,” jelasnya.

Mantan ketua Golkar dan wakil ketua MPR ini mengatakan, dia akan mengusung tema “Kaltim KEREN.” Itu akronim dari Kolaboratif, Ekonomi Maju Berkeadilan, Religius dan Bersatu, Enterpreneurship  dan Lingkungan Nyaman. Sekaligus untuk memoles Kaltim benar-benar keren untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Ketika ditanya wartawan perahu apa yang dia pakai? Mahyudin bersama timnya masih melakukan penggodokan. Bisa  menempuh jalur perseorangan, tapi bisa juga menggunakan jalur partai. “Segera saya putuskan termasuk soal calon wagub sebagai pendamping,” jelasnya.

Cara yang ditempuh Mahyudin ini, sama dengan apa yang dilakukan mantan gubernur Isran Noor. Menggunakan jalur perseorangan, tapi juga tetap melakukan pendekatan kepada partai. Malah Tim Perseorangan Isran sudah bergerak lebih dulu di 10 kabupaten/kota untuk mengumpulkan surat dukungan (surduk) dengan cara mengumpulkan KTP warga. Laporan dari ketua tim, Isran menyebutkan sudah 100 ribu yang berhasil dikumpulkan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim sudah mengumumkan syarat  yang harus disetor jika lewat perseorangan. Yaitu 236.185 surduk. Itu sama dengan 8,5 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) yang jumlahnya 2.778.644 pemilih.

Mahyudin mengaku optimis bisa meraup surduk atau dukungan partai. Dia cukup dikenal oleh pimpinan partai di pusat termasuk dengan Presiden Jokowi dan presiden terpilih Prabowo Subianto. “Insyaallah jika Allah merestui dan masyarakat mendukung, ada jalan untuk saya,” katanya.

Jika melihat jadwal Pilkada Serentak 2024 yang ditetapkan KPU, maka calon yang melalui jalur perseorangan harus bekerja keras dan cepat. Waktu yang disediakan KPU untuk mengumpulkan surduk dan verifikasi mulai 5 Mei nanti sampai 19 Agustus. Sebab, 24 Agustus sudah waktu pendaftaran dan 27 November hari pencoblosan.

Nama cagub Kaltim yang sudah beredar, selain Mahyudin dan Isran Noor, juga Rudy Mas’ud, anggota DPR RI, yang juga ketua DPD Golkar Kaltim. Rudy tidak repot-repot mencari perahu, sebab hasil Pileg 2024, Golkar meraup 15 kursi di DPRD Kaltim. Itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan yang dibutuhkan dalam Pilgub.

Partai lain tidak bisa melenggang sendiri. Mereka harus koalisi. Pada Pileg 2024, Gerindra menjadi pemenang kedua dengan meraih 10 kursi, PDIP 9 kursi, PKB 6 kursi. PAN  dan PKS sama-sama 4 kursi, Nasdem 3 kursi serta Demokrat dan PPP sama-sama 2 kursi.

Sementara itu, PDIP dan Demokrat Kaltim secara resmi membuka pendaftaran untuk mereka usung dalam Pilgub nanti. PDIP menjadwalkan 1 April sampai 15 Mei. Sedang Demokrat memulai pendaftaran 29 Maret lalu.  Pendaftaran juga terbuka untuk mereka yang berniat menjadi wali kota dan bupati.

Dalam keterangan kepada media, Ketua DPW PKB Kaltim Syafruddin menyatakan, partainya siap berkoalisi dengan partai lain dan akan menyodorkan nama kadernya sebagai calon wakil gubernur (cawagub).

Jika Isran dan Mahyudin lolos dalam jalur perseorangan, ini sejarah baru. Sebab, selama ini belum pernah ada cagub Kaltim melalui jalur seperti ini. Dalam Pilgub sebelumnya, semua menggunakan perahu partai dan gabungan partai.

PILWALI BALIKPAPAN

Sementara itu dalam Pilwali Balikpapan 2024 juga terdengar ada calon yang akan menggunakan jalur perseorangan. Ini untuk mengantisipasi jika Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud (RM) sebagai petahana kembali melakukan aksi “borong partai.”

Dr Agung Sakti  Pribadi dari Universitas Mulia setuju perlunya ada calon independen untuk Pilwali Balikpapan. Langkah ini cukup baik agar kasus 2020 tidak terulang lagi, di mana RM melawan “Kotak Kosong.”

Selain untuk mengantisipasi aksi borong partai, juga bisa mengetes komitmen warga atau pemilih apakah benar-benar ingin perubahan atau tetap dalam suasana sekarang. “Kalau mau perubahan, ya dukung calon independen yang lagi berjuang,” kata Agung, mantan ketua Partai Demokrat, yang juga saat ini memangku jabatan anggota Dewan Kehormatan Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia)  Wilayah Selatan.

Agung melalui Peradi tengah melakukan gugatan citizen lawsuit  (gugatan masyarakat) ke Pengadilan Negeri (PN) karena kosongnya jabatan wakil wali kota Balikpapan yang sudah hampir 3 tahun. “Kita menuntut segera diisi karena merugikan pemerintahan dan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, masa jabatan RM (termasuk kepala daerah lainnya) sesuai Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akan berakhir pada saat dilakukan pelantikan wali kota yang baru hasil Pilkada serentak. Karena pencoblosan berlangsung November nanti, maka ada kemungkinan pelantikan berlangsung di awal tahun 2025. Selama kampanye Pilwali nanti, RM mengajukan cuti.

Dalam Pilwali Balikpapan tahun 2011, ada paslon yang berani maju lewat jalur perseorangan, yaitu pasangan suami istri dr Abdul Hakim – Wahidah. Mereka lolos karena berhasil mengumpulkan 55.068 surduk dari 44.548 yang dipersyaratkan. Pada Pilwali 2024, syarat kebutuhan surduk hampir sama, sekitar 45 ribuan.

Tempo hari purnawirawan perwira menengah Kodam, Letkol Caj Solahuddin Siregar, yang dikenal juga sebagai ustaz mau mencoba jalur ini pada Pilwali Balikpapan 2020. Tapi dia gagal, karena KTP yang dikumpulkan tidak memenuhi syarat minimal.

Melihat hasil Pileg 2024, hanya Golkar yang bisa mengusung calon dengan perahu sendiri. Mereka memborong 16 kursi dari 45 kursi yang diperebutkan. Lebih dari 9 kursi yang dipersyaratkan untuk mengajukan calon wali kota.

Sedang partai lain terpaksa harus koalisi. Hasil Pileg 2024,   Nasdem memperoleh 7 kursi, Gerindra 6 kursi, PDIP dan PKB sama-sama 4 kursi, PKS 3 kursi, Hanura dan PPP sama-sama 2 kursi serta Partai Demokrat hanya 1 kursi.

Dari 8 partai yang ada itu, baru Nasdem yang ada tanda-tandanya mengajukan calon. Tersiar kabar Ketua Nasdem Balikpapan Ahmad Basir (AHB) akan maju. Nasdem tinggal mencari 2 kursi. Itu bisa merangkul PDIP, PKB atau PKS.

Sejauh ini memang belum terdengar kuat siapa-siapa yang bakal maju sebagai cawali menantang petahana? Dari pembicaraan yang ada, selain AHB disebut-sebut nama Farhat Brachma (Staf Khusus Wakil Presiden), drg Syukri Wahid (mantan anggota DPRD Balikpapan) dan Adam Sinte (anggota DPRD Kaltim).

Farhat adalah kader PDIP. Jika jadi maju, ada kemungkinan dia menggunakan perahu partai berkoalisi dengan partai lain. Syukri dari PKS hijrah ke Partai Gelora. Sedang Adam dari Partai Hanura. Apakah Syukri dan Adam menggunakan jalur partai, sepertinya tidak gampang. Karena itu bisa jadi mereka memilih alternatif kedua, jalur perseorangan.

Beberapa hari lalu saya ada baca di WA Group pernyataan seseorang yang cukup menarik tentang prototif wali Kota Balikpapan ke depan, periode 2024-2029. Dia bilang: “Kita perlu punya orang pintar seperti Pak Imdaad, tegas seperti Pak Tjutjup, gaul seperti Pak Rizal dan kaya seperti Pak Rahmad. Itu baru bisa Balikpapan lebih baik.” Ayo siapa yang berani maju?. (*) 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular