Kemarau Mulai Pukul Ekonomi Kaltim, Tongkang Batu Bara Terhambat hingga Distribusi BBM Terganggu

JAKARTA – Kemarau panjang mulai mengganggu aktivitas ekonomi di Kaltm. Sungai yang semakin dangkal membuat tongkang pengangkut batu bara kesulitan bergerak. Distribusi bahan bakar minyak (BBM) melalui jalur sungai juga ikut terdampak.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui surutnya sungai menjadi kendala pengangkutan batu bara di Kalimantan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan hambatan tersebut bukan karena pemerintah membatasi produksi batu bara. Masalah justru terjadi saat batu bara akan diangkut menggunakan tongkang. “Air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada,” kata Yuliot.

Kondisi sungai menjadi persoalan penting karena sebagian angkutan batu bara di Kalimantan masih mengandalkan jalur air. Tongkang membawa batu bara dari kawasan tambang menuju terminal atau titik pemuatan sebelum dikirim ke pasar domestik maupun ekspor.

Kaltim menjadi salah satu daerah yang paling berkepentingan dengan kondisi tersebut. Provinsi ini merupakan salah satu sentra produksi batu bara terbesar di Indonesia, sementara Sungai Mahakam dan sejumlah anak sungainya menjadi jalur utama pergerakan tongkang.

Persoalan serupa terjadi pada distribusi BBM. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM menyebut surutnya sungai menjadi salah satu penyebab distribusi BBM ke sejumlah wilayah di Kalimantan terganggu.

Pengiriman melalui jalur darat menggunakan truk kemudian menjadi salah satu alternatif. Namun, kapasitas angkut truk jauh lebih kecil dibandingkan kapal sehingga pengiriman harus dilakukan berulang kali.

Kondisi itu sudah terasa di sejumlah wilayah Kaltim. Dalam beberapa pekan terakhir, debit Sungai Mahakam turun drastis seiring kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Di Kutai Barat dan Mahakam Ulu, surutnya Mahakam telah mengganggu transportasi sungai. Sejumlah kapal dan longboat kesulitan menjangkau kawasan hulu.

Dampaknya ikut terasa pada pasokan kebutuhan masyarakat. Sejumlah wilayah di Mahakam Ulu sempat menghadapi kelangkaan BBM dan LPG, sementara harga kebutuhan pokok meningkat karena ongkos angkut membengkak.

READ  Bulog Salurkan 350 Ribu Paket Sembako untuk Buruh di Monas

Di Long Apari misalnya, jalur sungai yang selama ini menjadi akses utama tidak dapat dilalui secara normal. Warga dan angkutan barang terpaksa mengandalkan jalur darat yang kondisinya masih terbatas.

Kemarau di Kaltim juga dibarengi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan. Ribuan titik panas terdeteksi sepanjang Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Kaltim kemudian menetapkan status siaga darurat kekeringan, karhutla dan asap.

Kini dampak kemarau mulai merambah sektor pertambangan dan distribusi energi. Pemerintah masih mencari pola pengangkutan yang dapat menjaga pasokan BBM sekaligus mengatasi hambatan angkutan batu bara selama debit sungai belum kembali normal. (ant/MK)

Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img