
TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri menggagas pemanfaatan pengeras suara atau toa masjid dan langgar untuk mengingatkan warga mencegah kebakaran.
Gagasan ini muncul saat Aulia mengunjungi korban kebakaran di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, setelah rentetan kebakaran melanda kawasan permukiman di ibu kota Kukar.
Aulia mengusulkan agar imbauan mematikan kompor dan memeriksa instalasi listrik disampaikan secara rutin melalui pengeras suara masjid, terutama setelah pelaksanaan salat lima waktu.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar akan membahas kemungkinan kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk merealisasikan gagasan tersebut.
Langkah pencegahan ini menjadi perhatian setelah kebakaran besar di Kelurahan Melayu pada 5 Oktober 2026 yang menghanguskan sekitar 75 bangunan.
Berselang delapan hari, kebakaran kembali terjadi di Kelurahan Loa Ipuh pada 13 Oktober 2026, berdampak pada 11 rumah dan menewaskan dua anak.
Rentetan kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam setelah api membesar.
Upaya pencegahan dari lingkungan rumah tangga juga perlu diperkuat untuk menekan risiko kebakaran.
Aulia mengatakan, gagasan pemanfaatan pengeras suara masjid dan langgar dibahas ketika pemerintah daerah mengevaluasi penanganan kebakaran di Loa Ipuh.
Ia ingin tempat ibadah turut berperan menyampaikan pesan keselamatan kepada masyarakat.
Melalui imbauan rutin, warga diharapkan terbiasa memastikan kompor telah dimatikan sebelum meninggalkan rumah.
Pemeriksaan instalasi listrik juga perlu dilakukan, khususnya ketika rumah ditinggalkan dalam waktu lama atau saat malam hari.
“Tadi kami juga sudah berdiskusi mengenai kemungkinan bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk memberikan imbauan kepada langgar dan masjid agar setiap kali salat lima waktu, warga diingatkan untuk mematikan kompor,” kata Aulia.
Warga juga diimbau mematikan aliran listrik yang tidak diperlukan ketika bepergian serta memastikan tidak ada perangkat yang tetap terhubung ke stopkontak tanpa pengawasan.
Aulia menilai, kebiasaan sederhana tersebut perlu dibangun secara konsisten. Dengan pengingat yang disampaikan secara berkala, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap potensi kebakaran di rumah masing-masing.
“Dengan begitu, kita bisa melakukan mitigasi agar kejadian seperti ini bisa dihindari,” ujarnya.
Meski demikian, pemanfaatan pengeras suara masjid dan langgar tersebut masih berupa gagasan.
Pelaksanaannya memerlukan pembahasan lebih lanjut bersama DMI, termasuk mengenai mekanisme penyampaian imbauan kepada masyarakat.
Selain mengoptimalkan peran masjid, Aulia mendorong penguatan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) di setiap Rukun Tetangga (RT).
Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keamanan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana bagi warga untuk saling mengingatkan mengenai potensi bahaya kebakaran.
Keterlibatan masyarakat dinilai penting karena pencegahan harus dimulai sebelum api muncul. Warga diharapkan lebih peduli terhadap kondisi rumah dan lingkungan sekitar, sekaligus segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Ia berharap upaya pencegahan dapat melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, mulai dari keluarga, pengurus RT, hingga pengelola tempat ibadah.
Dengan keterlibatan bersama, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di kawasan permukiman diharapkan semakin meningkat.
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Peran aktif masyarakat tentunya lebih besar untuk membantu mencegah agar kebakaran tidak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita,” pungkasnya. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R



