Senin, April 22, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kasus Difteri Muncul di Berau: Madri Pani Tekankan Pentingnya Sosialisasi

TANJUNG REDEB – Kasus difteri terdeteksi masuk di Kabupaten Berau. Ada 4 kasus yang tersebar di 4 kecamatan dan penderitanya ada yang meninggal dunia. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Garna Sudarsono menegaskan, pihaknya akan melakukan tindakan efektif dan efisien di 4 kecamatan yang terjangkit kasus difteri.

“Kami dari Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kabupaten Berau akan terus melakukan evaluasi serta mengamati perkembangan kasus difteri di 4 kecamatan tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Dipaparkannya, 4 kecamatan yang terdeteksi ada kasus difteri yakni Teluk Bayur, Pulau Derawan, Kelay dan Gunung Tabur. “Ketika nanti ada kasus difteri baru, kami akan lakukan peningkatan penanganan Imunisasi ORI (Outbreak Response Immunization) intensif di kecamatan yang terdampak,” bebernya.

Lebih lanjut pihaknya bakal terus memaksimalkan pelayanan di 4 kecamatan terdampak dengan pemberian logistik vaksin ke Puskesmas daerah tersebut. “Logistik vaksin ini juga menjadi pertimbangan kami untuk melaksanakan Imunisasi ORI di empat kecamatan,” imbuhnya.

Menurut Garna, jika Dinkes Berau melakukan distribusi vaksin ORI difteri secara menyeluruh ke setiap puskesmas yang ada di 13 kecamatan, maka vaksin ORI tidak cukup dan gagal menciptakan kekebalan imunitas tubuh anak-anak.

“Karena kalau menyasar ke semua kecamatan, tetapi vaksin tidak mencukupi justru nanti tidak terwujud menciptakan Herd Immunity kepada masyarakat kita,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, terakhir vaksin ORI difteri tiba di Kabupaten Berau pada Februari 2024 dan langsung dilakukan kegiatan pelayanan ke setiap Puskesmas. “Bulan Februari lalu ORI difteri datang ke Berau yang untuk vaksin DPT mencapai 1.400 vial atau 14.000 dosis. Karena 1 vial itu sekitar 8 sampai 10 dosis,” ucapnya.

“Kemudian DT usia 5-7 tahun itu kita dapat 175 vial atau sekitar 1.750 dosis kemudian TD ada 1.246 vial atau sekitar dua belasan ribu dosis dengan takaran 0,5 ml dengan merk jenis Pentavalen,” sambungnya.

Terkait gejala terserang difteri, Garna menyebutkan antara lain sakit tenggorokan, demam dan terbentuknya selaput abu-abu yang melapisi amandel. “Difteri adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae,” sebutnya.

Sementara Ketua DPRD Berau, Madri Pani mengingatkan Dinkes untuk gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Sosialisasinya berupa tata cara pencegahan atau antisipasi. Karena hal ini harus disosialisasikan supaya masyarakat yang awalnya tidak tahu mengenai penyakit difteri ini menjadi tahu,” tuturnya, Senin (25/3/2024).

Dirinya menerangkan, sosialisasi perlu dimaksimalkan agar masyarakat dapat mengetahui gejala awal penyakit tersebut sehingga pencegahan dapat dilakukan. “Dinkes bisa menginstruksikan puskesmas-puskesmas untuk ikut mensosialisasikan tata cara pencegahan penyebaran difteri ini,” katanya.

Politikus Nasional Demokrat (NasDem) ini mengatakan, dengan adanya bukti masyarakat yang terjangkit kasus difteri, bahkan terjadi kematian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau seharusnya mendorong seluruh tenaga kesehatan atau puskesmas untuk gencar melakukan sosialisasi.

“Supaya masyarakat lebih berhati-hati terhadap penyakit tersebut. Kalau pemerintah sudah mensosialisasikan, tetapi ada oknum masyarakat yang tidak percaya, itu risiko mereka sendiri,” tegasnya.

Madri mengaku baru mendengar adanya kasus difteri di kabupaten paling utara Kaltim ini, sehingga sebagai wakil rakyat, dirinya mengingatkan agar ada respons cepat dari pemerintah daerah.

“Kalau cinta dan sayang dengan masyarakat, harusnya permasalahan ini menjadi perhatian khusus, karena menyangkut kesehatan dan nyawa masyarakat. Bagaimana kita mau sayang dengan masyarakat, kalau persoalan penyakit saja tidak ada sosialisasi yang maksimal,” ucapnya.

Kendati demikian, dirinya mengingatkan Pemkab untuk maksimal dalam memberi support kepada tenaga kesehatan agar bisa melayani masyarakat secara profesional. “Yang paling penting juga adalah siapkan seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam penanganan,” tandasnya. (adv)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular