
BERAU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau kini tak hanya soal api dan kabut asap. Dampak terhadap kesehatan masyarakat mulai terlihat dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara signifikan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan kasus ISPA mengalami lonjakan hingga tiga kali lipat sejak Juni hingga awal September 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah di tengah kualitas udara Berau yang terus memburuk akibat kepungan asap karhutla.
Gamalis mengatakan, peningkatan kasus ISPA terjadi cukup cepat. Penyakit yang sebelumnya berada di luar peringkat teratas tersebut kini menempati posisi kedua sebagai penyakit yang paling banyak ditemukan di Berau, setelah hipertensi.
“ISPA ini yang tadinya berada di 10 besar, di ranking ke-9 atau ke-8, hari ini sudah naik ke ranking kedua setelah hipertensi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kasus tersebut terlihat dari perkembangan data sejak Juni, Juli, Agustus hingga memasuki awal September. Jumlah penderita ISPA disebut telah mencapai sekitar tiga kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Perkembangannya dari bulan Juni, Juli, Agustus, sampai September awal hari ini sudah melipat tiga dari jumlah ISPA selama ini,” katanya.
Gamalis menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman titik api.
“Selama ini kita lagi sibuk dengan kondisi kebakaran, karhutla. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu efek dari kebakaran tersebut,” tegasnya.
Kekhawatiran itu semakin menguat setelah dilakukan pengukuran kualitas udara di dalam ruangan. Hasilnya menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 dan PM10 masih berada pada tingkat tinggi, bahkan di ruang tertutup.
Gamalis menyebut kadar PM2.5 yang terukur di dalam ruangan hampir tiga kali lipat dari batas normal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan asap karhutla tidak hanya menjadi persoalan ketika masyarakat berada di luar rumah.
“Pengukuran di dalam ruangan PM2.5-nya sudah di atas rata-rata, hampir tiga kali lipat hasil pengukuran tadi. Ini padahal di dalam ruangan, belum di luar ruangan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, PM2.5 menjadi salah satu partikulat yang perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat menembus saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap karhutla,” pungkasnya. (adv)



