IPNU Bahas Kesetaraan Gender dan Bahaya Perundungan Bersama DP3AP2KB PPU

PPU – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Penajam Paser Utara (PPU) untuk memberikan edukasi mengenai kesetaraan gender, perundungan, hingga kekerasan di kalangan remaja.

Kegiatan tersebut dikemas dalam Study Gender pada Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) yang berlangsung di Aula TPQ Raudhatul Jannah, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Sabtu (25/7/2026).

Analis Kebijakan Ahli Muda DP3AP2KB PPU, Enik Herawati Susanti, hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi mengenai konsep gender serta berbagai bentuk ketidakadilan gender yang masih terjadi di masyarakat.

Dalam paparannya, Enik menegaskan pentingnya membedakan antara jenis kelamin yang bersifat biologis dengan gender yang merupakan konstruksi sosial dan budaya. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi dasar agar tidak terjadi diskriminasi maupun pembatasan peran seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ketidakadilan gender kerap memicu stereotype, subordinasi, hingga kekerasan yang merugikan salah satu pihak. Oleh karena itu, generasi muda khususnya para pelajar harus bisa menjadi pelopor kesetaraan yang saling menghargai tanpa membeda-bedakan,” jelas Enik di hadapan puluhan kader IPNU dan IPPNU.

Selain membahas isu gender, diskusi juga menyoroti maraknya kasus perundungan (bullying) dan kekerasan yang dipicu penggunaan media sosial. Pembahasan berlangsung interaktif karena banyak peserta mengaitkan materi dengan kondisi yang mereka temui di lingkungan remaja.

Peserta menyoroti meningkatnya kasus perundungan, baik secara fisik maupun verbal, termasuk aksi cyberbullying yang semakin sering terjadi di ruang digital.

Enik mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi remaja. Tanpa dibekali empati dan pemahaman gender yang baik, media sosial berpotensi menjadi sarana terjadinya perundungan, pelecehan verbal, hingga penyebaran konten yang mendiskreditkan kelompok tertentu.

READ  Grace Dorong Dinas Pendidikan Berikan Perhatian Kepada Para Guru

Melalui kegiatan tersebut, IPNU dan IPPNU bersama DP3AP2KB mendorong para peserta untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Mereka juga diajak menciptakan ruang digital yang aman, berani melaporkan jika menemukan tindakan perundungan maupun kekerasan, serta menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Kegiatan Study Gender ini diharapkan mampu membentuk kader IPNU dan IPPNU yang tidak hanya unggul secara akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dalam mencegah perundungan dan kekerasan, baik di lingkungan nyata maupun di ruang digital. (MK)

Pewarta: Enik Herawati/Atmaja Riski
Editor: Agus S.

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img