Minggu, Mei 26, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Harga Beras Jadi Komoditas Terbesar Penyebab Inflasi

KORANUSANTARA –  Tarif transportasi hingga komoditas pangan masih menjadi kontributor indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Oktober inflasi mencapai 0,17 persen MtM atau 2,56 persen YoY.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, tingkat inflasi bulanan pada Oktober 2023 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (0,19 persen). Namun, inflasi bulanan pada Oktober 2023 lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (-0,11 persen).

”Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan pada Oktober 2023 adalah transportasi dengan inflasi 0,55 persen dan andilnya 0,07 persen,” paparnya di Jakarta, Rabu, 1 November 2023.

Ada beberapa komoditas penyumbang utama inflasi. Di antaranya, beras, bensin, cabai rawit, dan tarif angkutan udara (lihat grafis). Komoditas lain yang menyumbang inflasi 0,01 persen adalah cabai merah, emas perhiasan, tarif air minum PAM, dan sawi hijau.

Pudji menyatakan, beras menjadi penyumbang inflasi dalam tiga bulan terakhir. Secara akumulasi, kenaikan harga beras menyumbang inflasi 0,49 persen sepanjang tahun ini. ”Beras merupakan komoditas penyumbang andil inflasi terbesar sejak Agustus sampai Oktober 2023,” ungkapnya.

BPS juga memberikan tinjauan khusus pada perkembangan inflasi komponen volatile food. Pudji mengungkapkan, secara historis, pada 2020–2023 terlihat adanya pola yang mirip. Yakni, secara umum terjadi beberapa kali deflasi komponen volatile food pada semester kedua.

”Hal ini berbeda dengan 2023. Komponen volatile food baru mengalami deflasi satu kali, yakni pada Agustus. Meski demikian, level inflasi volatile food pada 2023 relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” jelas Pudji.

Tiga komoditas utama penyebab inflasi komponen volatile food pada Oktober 2023 adalah beras, cabai rawit, dan cabai merah. Di tengah inflasi komponen volatile food, ada beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi cukup signifikan. Di antaranya, ikan segar, telur ayam ras, tomat, bawang merah, minyak goreng, dan bawang putih.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyebut harga beras yang meningkat dipicu kondisi El Nino. Peningkatan terjadi di seluruh dunia. ”Tadinya harga beras di level Rp 12.000, sekarang sudah di Rp 14.500. Inilah situasi yang kita hadapi yang memengaruhi harga komoditas, baik akibat geopolitik, kondisi keuangan Amerika yang volatile, maupun karena ada perubahan iklim yang memengaruhi komoditas pangan seperti beras,” terangnya.

Sementara itu, Statistisi Ahli Madya BPS Jatim Umar Sjaifudin menyebutkan, IHK Jatim pada Oktober 2023 mencapai 116,89 poin. Naik 0,27 persen jika dibandingkan dengan IHK Jatim September lalu. ”Inflasi bulanan tertinggi dialami Sumenep 0,63 persen. Sebaliknya, inflasi month-to-month (MtM) terendah ada di Banyuwangi dengan 0,04 persen,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan IHK periode yang sama tahun lalu, inflasi YoY tahun ini mencapai 3,25 persen. Angka itu masih berada di kisaran aman yang diproyeksi BI Jawa Timur yang menargetkan inflasi provinsi mencapai 3 persen dengan margin error plus minus 1 persen. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular