E50 Jadi Peluang Industri Dalam Negeri, Mendiktisaintek Dorong Riset Kampus

JAKARTA – Rencana pengembangan bahan bakar campuran etanol 50 persen atau E50 membuka peluang bagi penguatan industri dalam negeri. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai kebutuhan energi nasional perlu dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan teknologi, memperkuat kapasitas produksi domestik, dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Pesan tersebut disampaikan Brian dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, Senin (26/10/2026).

Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Menurut Brian, riset kampus tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian perlu dikembangkan menjadi teknologi, produk, dan proyek yang dapat diterapkan di sektor industri.

“Kami mendorong di kampus-kampus, penelitian dan riset tidak hanya berhenti sampai publikasi, tetapi lebih lanjut bagaimana kita bisa menghasilkan proyek-proyek dan karya-karya yang sinergis dengan industri,” tegas Brian.

Dalam konteks kemandirian energi, Brian mencontohkan peluang pengembangan industri yang muncul dari kebutuhan nasional, termasuk melalui program B50 dan E50. Kebutuhan tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun kapasitas produksi di dalam negeri sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya industri baru.

Pemerintah sendiri tengah menyiapkan pengembangan E50 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Program ini diarahkan pada pencampuran etanol dengan bensin, dengan kesiapan pasokan bahan baku dan kapasitas industri domestik menjadi aspek penting dalam pelaksanaannya.

Peluang tersebut juga berkaitan dengan potensi sumber daya alam Indonesia. Namun, potensi bahan baku perlu didukung teknologi pengolahan, riset, dan pengembangan kemampuan industri agar dapat menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Brian menegaskan, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan keahlian, riset terapan, serta penyelesaian persoalan yang dihadapi pelaku industri.

READ  BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Percepat Penanganan Longsor Cilacap

“Ini tugas besar para teknokrat kampus untuk bekerja keras, memastikan kesiapan perguruan tinggi untuk mendukung kebutuhan industri melalui pengembangan sumber daya manusia dan riset yang relevan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menyoroti pentingnya inovasi teknologi untuk mengubah potensi dan keunggulan komparatif Indonesia menjadi nilai tambah ekonomi.

“Jadi, semuanya membutuhkan teknologi inovasi. Tanpa inovasi, kita hanya bisa menjual bahan asli,” ujar Rachmat.

Diskusi panel DTIIF 2026 tersebut juga menghadirkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi salah satu langkah untuk memastikan kebutuhan strategis nasional dapat mendorong tumbuhnya kemampuan teknologi di dalam negeri. Melalui riset yang relevan dan pengembangan SDM, kampus diharapkan berkontribusi dalam membangun industri bernilai tambah, termasuk industri pendukung kebutuhan energi nasional.

 

Pewarta/ Editor : Nicha R

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img