
BERAU – Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Parasian Mangunsong menilai titik lemah pembangunan di Bumi Batiwakkal adalah ketergantungan kampung terhadap kucuran dana pemerintah.
Dia menuturkan, DPRD Berau tengah menyiapkan langkah baru agar seluruh kampung bisa mandiri dan tidak sekadar menunggu kucuran anggaran tiap tahun.
Melalui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), DPRD Berau kini mendorong penguatan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Inisiatif ini bukan sekadar regulasi, tapi upaya mengubah pola pikir pembangunan kampung dari konsumtif menjadi produktif.
Rudi menegaskan bahwa BUMK harus menjadi pusat aktivitas ekonomi di kampung, bukan hanya formalitas kelembagaan.
“Kalau kampung terus bergantung pada ADD dan ADK, pembangunan tidak akan berkelanjutan. BUMK ini harus jadi sumber pendapatan baru,” tegasnya.
Menurutnya, dari sekitar 100 kampung di Berau, potensi ekonomi lokal sebenarnya sangat besar, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga perkebunan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal.
Raperda ini dirancang untuk memberi ruang lebih luas bagi kampung dalam mengelola usaha secara mandiri, termasuk dari sisi manajemen, pengembangan bisnis, hingga pemasaran produk.
Sejumlah kampung bahkan sudah membuktikan bahwa kemandirian itu bukan sekadar wacana. Kampung Long Lanuk, Labanan Makarti, dan Sukan Tengah menjadi contoh nyata bagaimana BUMK bisa berkembang dengan memanfaatkan potensi lokal.
“Yang sudah berhasil ini tinggal dijadikan contoh. Kampung lain sebenarnya bisa, asal ada keberanian untuk mulai dan dikelola dengan serius,” lanjutnya.
Menariknya, DPRD juga mulai melirik potensi yang selama ini dianggap limbah, seperti sisa hasil perkebunan kelapa sawit. Jika dikelola dengan baik melalui BUMK, limbah tersebut bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Inovasi itu penting. Bahkan limbah sawit pun bisa jadi peluang usaha kalau dikelola secara profesional,” ujarnya.
Ke depan, DPRD berharap Raperda ini mampu memperkuat kelembagaan BUMK secara menyeluruh. Tidak hanya berdiri, tapi juga sehat secara bisnis. Mulai dari tata kelola, strategi pemasaran, hingga ekspansi usaha menjadi fokus utama.
Dengan langkah ini, kampung di Berau diharapkan tak lagi sekadar menunggu bantuan, melainkan mampu menciptakan sumber pendapatan sendiri dan membiayai pembangunan secara berkelanjutan. (adv)


