BNPB Perketat SOP Penyemaian Dry Ice Usai Material Jatuh di Permukiman Warga

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengevaluasi dan memperketat standar operasional prosedur (SOP) penyemaian dry ice dalam operasi modifikasi cuaca. Langkah ini dilakukan menyusul laporan masyarakat mengenai material karbon dioksida padat tersebut yang jatuh di kawasan permukiman saat operasi berlangsung.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan penyesuaian teknis dilakukan dengan memasang saringan khusus pada corong penabur serta memperhalus butiran dry ice. Langkah tersebut ditujukan agar material menguap di udara sebelum mencapai permukaan tanah.

“Pengetatan prosedur ini dilakukan agar pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice tetap berjalan aman,” kata Berton di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Teknologi modifikasi cuaca (OMC) berbasis dry ice atau karbon dioksida padat digunakan BNPB untuk membantu mengurai penumpukan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Material tersebut memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius.

Berton menjelaskan, operasi udara menggunakan dry ice dilakukan dengan menyemai material pada lapisan inversi atmosfer di ketinggian 5.000–7.000 kaki. Proses tersebut ditujukan untuk memicu pendinginan cepat di atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap di lapisan bawah dapat terdorong naik dan menyebar.

BNPB menyebut uji coba teknologi tersebut menunjukkan peningkatan jarak pandang di sejumlah lokasi. Salah satunya di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan.

Pada 16 Oktober 2026, penyemaian dry ice dengan ukuran butiran sekitar tiga milimeter dilaporkan membantu memperbaiki jarak pandang dibandingkan hari sebelumnya.

Operasi ini dilaksanakan melalui kolaborasi BNPB, TNI, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober 2026. Pelaksanaan awal menggunakan pesawat Casa 212 REG A-2117.

READ  Isu Anggaran Makan Gratis Rp 7.500, Tim Sinkronisasi Sebut Masih Spekulatif

Operasi kemudian diperluas ke Kalimantan Tengah pada 19 Oktober 2026 dengan mengerahkan pesawat Casa 212-200/A-2107.

Penggunaan teknologi dry ice melengkapi pengerahan armada udara untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah. BNPB mencatat total 49 armada udara dikerahkan secara nasional, terdiri atas 32 unit untuk pengeboman air (water bombing) dan 17 unit pesawat patroli serta operasi modifikasi cuaca.

Upaya tersebut didukung lebih dari 60 ribu personel gabungan di darat yang bertugas di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Hingga 19 Oktober 2026, area terbakar yang berhasil dipadamkan dilaporkan mencapai 454,25 hektare dari total target penanganan 1.024,33 hektare di enam provinsi tersebut.

BNPB mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara terdampak asap. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.

“Masyarakat diimbau untuk tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta tidak melakukan aktivitas pemicu kebakaran hutan demi menjaga keselamatan bersama,” ujar Berton. (ANT/KN)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img