Bisa Deteksi Tumor hingga Kanker, RSUD Bontang Jelaskan Perbedaan Gastroskopi dan Kolonoskopi

BONTANG – Pemeriksaan gangguan saluran pencernaan tidak selalu menggunakan metode yang sama. RSUD Taman Husada Bontang menyediakan dua jenis layanan endoskopi, yakni gastroskopi untuk memeriksa saluran pencernaan bagian atas dan kolonoskopi untuk bagian bawah. Keduanya dapat membantu dokter menemukan berbagai kelainan, mulai dari peradangan, luka, hingga dugaan tumor atau kanker yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Petugas layanan endoskopi RSUD Taman Husada Bontang, Muhammad Junaid, S.Kep., Ns., mengatakan kedua metode tersebut memiliki fungsi berbeda sesuai lokasi keluhan dan kondisi medis pasien.

Gastroskopi digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung, hingga bagian awal usus halus. Pemeriksaan dilakukan menggunakan selang khusus berkamera yang dimasukkan melalui mulut untuk melihat kondisi jaringan secara langsung.

Melalui metode ini, dokter dapat mengidentifikasi sejumlah kelainan, seperti peradangan lambung atau gastritis, tukak lambung, serta perubahan jaringan yang dapat berkaitan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD).

Gastroskopi juga dapat membantu menemukan tanda-tanda infeksi Helicobacter pylori (H. pylori), meskipun pemeriksaan tambahan, termasuk pengambilan sampel jaringan, mungkin diperlukan untuk memastikan infeksi tersebut.

“Tidak hanya itu, gastroskopi juga dapat membantu menemukan adanya tumor maupun kanker pada saluran pencernaan bagian atas,” ujar Junaid, Sabtu (31/10/2026).

Sementara itu, kolonoskopi digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah, terutama usus besar dan rektum.

Pemeriksaan ini dapat direkomendasikan kepada pasien yang mengalami buang air besar (BAB) berdarah, diare atau sembelit berkepanjangan, nyeri perut yang tidak kunjung membaik, hingga penurunan berat badan tanpa penyebab jelas.

Berbeda dengan gastroskopi, kolonoskopi dilakukan dengan memasukkan selang berkamera melalui anus untuk melihat kondisi bagian dalam usus besar.

Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengidentifikasi peradangan, luka, polip, sumber perdarahan, maupun benjolan yang dicurigai sebagai tumor.

READ  Ratusan Pasien Berobat Setiap Hari, Aktivitas di RSUD Bontang Capai Ribuan Orang

“Melalui kolonoskopi, dokter dapat melihat kondisi bagian dalam usus secara langsung untuk mencari penyebab keluhan sekaligus mengidentifikasi kemungkinan adanya kelainan pada jaringan,” ungkapnya.

Junaid menjelaskan, kedua pemeriksaan menggunakan kamera yang menampilkan kondisi saluran pencernaan secara langsung melalui layar monitor.

Teknologi tersebut membantu dokter melihat lokasi dan bentuk kelainan dengan lebih jelas sehingga pemeriksaan lanjutan maupun penanganan dapat ditentukan sesuai temuan medis.

“Dengan demikian, dokter memiliki gambaran lebih jelas untuk menentukan pemeriksaan lanjutan maupun penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien,” bebernya.

Meski dapat menemukan kelainan yang mengarah pada kanker, hasil pengamatan endoskopi saja tidak selalu cukup untuk memastikan diagnosis. Apabila ditemukan jaringan mencurigakan, dokter dapat melakukan biopsi untuk pemeriksaan laboratorium.

Junaid mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan agar terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Jenis pemeriksaan akan ditentukan berdasarkan keluhan, hasil evaluasi, dan kebutuhan medis masing-masing pasien. (Dwi/Adv)

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img