JAKARTA – Bank Indonesia mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi serta membangun konektivitas pembayaran lintas negara untuk menghadapi meningkatnya fragmentasi ekonomi dan ketidakpastian global.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kerja sama konkret tersebut dapat menjadi bagian dari upaya negara-negara BRICS membangun ketahanan ekonomi dan keuangan di tengah tekanan geopolitik global.
“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara,” kata Destry dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS atau 2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (BRICS FMCBG) yang berlangsung di Mumbai, India.
Dalam rangkaian pertemuan tersebut, Destry juga bertemu secara bilateral dengan Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra.
Pertemuan bilateral itu membahas percepatan sejumlah agenda kerja sama keuangan Indonesia dan India, termasuk local currency transaction (LCT), local currency bilateral swap arrangement (LCBSA), serta konektivitas pembayaran melalui QR antarnegara.
Bank Indonesia menilai kerja sama tersebut dapat menjadi bentuk konkret penerjemahan komitmen BRICS ke dalam konektivitas ekonomi dan keuangan yang memberikan manfaat bagi negara-negara anggotanya.
Pertemuan BRICS FMCBG kedua berlangsung pada 9-10 September 2026 dan dihadiri para pimpinan bank sentral serta kementerian keuangan negara anggota BRICS.
Negara yang hadir dalam forum tersebut meliputi Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota BRICS menyepakati penguatan kerja sama ekonomi dan keuangan untuk meningkatkan resiliensi menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan, antara lain penguatan resiliensi dan pertumbuhan ekonomi, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), konektivitas pembayaran lintas negara, penggunaan mata uang lokal, ketahanan siber, serta keuangan berkelanjutan.
Negara-negara BRICS juga menyoroti pentingnya penguatan arsitektur keuangan global, termasuk melalui reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF) agar suara dan representasi negara berkembang semakin kuat.
Indonesia menilai keberagaman karakteristik ekonomi negara-negara BRICS dapat menjadi modal untuk membangun kerja sama yang saling melengkapi dan menghasilkan nilai tambah bersama.
Karena itu, Indonesia mendorong agar perbedaan kondisi dan prioritas masing-masing negara tidak menjadi penghambat, tetapi justru menjadi dasar untuk membangun kerja sama yang lebih inklusif dan konkret.
Pertemuan BRICS FMCBG kedua kemudian menghasilkan Pernyataan Bersama yang mencerminkan komitmen negara-negara anggota untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Indonesia juga menilai ruang dialog antarnegara perlu terus dijaga di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi dan geopolitik dunia.
Melalui sinergi Bank Indonesia dan pemerintah, Indonesia berkomitmen terus berkontribusi dalam agenda kerja sama internasional, termasuk mendorong langkah konkret yang mendukung ketahanan ekonomi dan sistem keuangan nasional.
Penguatan transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara menjadi salah satu agenda yang dinilai strategis untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus mengurangi hambatan dalam transaksi antarnegara. (ANT/KN)



