SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, harus mendapatkan penanganan medis setelah menyantap makanan yang dipasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah.
Jumlah korban terus bertambah sejak Selasa (1/9/2026) sore. Data penanganan medis Rabu (2/9/2026) pagi mencatat sekitar 500 santri telah ditangani di delapan rumah sakit di Sidoarjo.
Dari 500 santri tersebut, 320 orang telah diperbolehkan pulang. Sebanyak 65 pasien masih menjalani rawat inap dan 115 lainnya dalam observasi.
RSUD Notopuro menjadi rumah sakit yang menerima korban terbanyak dengan 334 santri. Pasien lainnya tersebar di RS Siti Hajar, RSU Aisyiyah Siti Fatimah, RS Delta Surya, RS Pusura, RS Pusdik Bhayangkara Porong, RS Arafah Anwar Medika dan RS Anwar Medika.
Perkembangan berikutnya menunjukkan kasus tidak hanya menimpa santri Manbaul Hikam. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut total korban dugaan keracunan mencapai 512 orang yang berasal dari 19 lembaga pendidikan.
Seluruh korban memiliki satu kesamaan, yakni menerima makanan dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.
“Ya, kita lihat faktor apa kesamaan dari semua adalah penerima dari SPPG yang sama. Mengonsumsi menu yang juga kebetulan sama,” kata Emil.

Operasional SPPG Kalitengah langsung dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Sampel makanan telah diambil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan kepolisian untuk diperiksa di laboratorium.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan penghentian dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan.
“Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional. Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan,” kata Teguh.
SPPG Kalitengah pada Selasa mendistribusikan ribuan porsi MBG kepada penerima manfaat di wilayah Tanggulangin. Sekitar seribu porsi di antaranya dikirim ke lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
Menu yang dibagikan berupa nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis dan baby corn, tempe bumbu Bali serta buah apel.
Makanan didistribusikan sekitar pukul 10.00 WIB dan disantap para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengalami keluhan.
Gejala yang muncul antara lain pusing, mual, muntah, lemas dan gangguan pencernaan. Jumlah santri yang mengalami keluhan kemudian terus bertambah hingga ambulans dikerahkan untuk membawa mereka ke sejumlah rumah sakit.
Salah seorang santriwati mengaku merasakan rasa tidak biasa pada sayuran yang disajikan.
“Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya,” kata santriwati bernama Syaza.
Namun, belum dapat dipastikan apakah sayuran atau komponen makanan lainnya menjadi penyebab kejadian tersebut. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam juga meluruskan informasi yang beredar mengenai pengelolaan makanan.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun menegaskan makanan tersebut tidak dimasak oleh pihak pesantren.
“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari Kalitengah. Kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok,” ujarnya.

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Ia menyebut sebagian pasien sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
“Tidak ada yang meninggal, semua pasien tertangani dengan baik. Kalau ada berita yang menyatakan ada yang meninggal, itu tidak benar,” tegas Subandi.
Pemprov Jawa Timur bersama Pemkab Sidoarjo kini melakukan pemantauan terhadap seluruh lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Langkah itu dilakukan untuk menemukan kemungkinan siswa atau santri lain yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan.
Seluruh biaya perawatan korban, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, ditanggung pemerintah daerah.
Kasus Sidoarjo kembali menyoroti keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Sebelumnya, BGN mengungkap telah menutup 1.300 SPPG yang tidak memenuhi standar keselamatan pangan.
BGN juga memperketat pengawasan dapur setelah muncul sejumlah kasus keracunan MBG di berbagai daerah. Pemeriksaan tidak hanya menyangkut proses pengolahan makanan, tetapi juga kebersihan dapur, sanitasi, penyimpanan bahan hingga distribusi makanan kepada penerima.
Untuk kasus Sidoarjo, pemerintah belum menetapkan penyebab pasti gangguan kesehatan massal tersebut. Penentuan sumber dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. (ant/MK)
Editor: Agus S



