JAKARTA – Dua pekan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dampaknya masih sangat besar. Sebanyak 111 orang meninggal dunia, 1.631 orang terluka, dan 188.161 warga masih mengungsi hingga Minggu (30/8/2026).
Aktivitas gempa juga belum berhenti. Data BMKG hingga Minggu pukul 11.00 WIB mencatat 9.870 gempa susulan, mendekati angka 10 ribu kejadian sejak gempa utama 15 Agustus lalu.
Dari 111 korban meninggal, jumlah terbesar berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 45 orang. Disusul Manggarai Timur 38 orang dan Nagekeo 13 orang.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah korban meninggal tidak bertambah dalam beberapa hari terakhir.
“Per hari ini dan dari beberapa hari yang lalu kami tidak memperoleh lagi laporan adanya korban meninggal baru, sehingga total yang meninggal adalah 111 orang,” kata Berton.
Jumlah warga yang mengungsi mulai berkurang. Namun, berdasarkan pembaruan BNPB hingga Minggu pukul 07.00 WIB, masih terdapat 188.161 pengungsi. Jumlah itu berkurang 4.142 orang dibandingkan pendataan sebelumnya.
Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Nagekeo sebanyak 50.574 orang dan Manggarai 50.556 orang. Pengungsi lainnya tersebar di Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, Ende, serta daerah terdampak lainnya.
Kerusakan permukiman juga sangat luas. BNPB mencatat 95.567 rumah terdampak, terdiri atas 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rusak berat.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan hunian sementara maupun relokasi menjadi salah satu persoalan mendesak. Sedikitnya 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat membutuhkan penanganan tempat tinggal.
Sementara itu, BMKG mencatat jumlah gempa susulan terus bertambah. Hingga Minggu pukul 11.00 WIB, jumlahnya mencapai 9.870 kejadian, dengan magnitudo terkecil M1,0 dan terbesar M6,2.
Sebanyak 35 gempa memiliki magnitudo M5,0 atau lebih dan sedikitnya 156 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan tingginya aktivitas gempa tidak hanya berkaitan dengan Sesar Naik Belakang Busur Flores. Sejumlah gempa di bagian barat Flores menunjukkan mekanisme berbeda dari gempa utama.
Menurut Daryono, kondisi tersebut mengindikasikan adanya sumber gempa lain yang kemungkinan ikut terpicu akibat perubahan tegangan setelah gempa besar. Fenomena itu dikenal sebagai off-fault seismicity.
Pemantauan terhadap lokasi, kedalaman, magnitudo dan pola gempa susulan masih terus dilakukan. Banyaknya gempa susulan juga tidak dapat digunakan untuk memprediksi kapan gempa besar berikutnya akan terjadi. (ant/MK)
Editor: Agus S.



