TIDAK ADA yang menyangka Senin sore (6/7/2026) menjadi hari terakhir Muhammad Syahbirin mengabdi sebagai aparatur sipil negara. Beberapa jam sebelumnya, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bontang itu masih bekerja seperti biasa di kantornya. Menjelang petang, kabar duka itu menyebar cepat.
Saya sendiri baru mengetahui kabar tersebut malam tadi. Seorang kolega mengirimkan sebuah foto melalui WhatsApp. Foto karangan bunga duka cita dari Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, yang sudah berada di rumah duka. Dari foto itulah saya mengetahui kabar berpulangnya Muhammad Syahbirin.
Saya kemudian memastikan informasi tersebut kepada beberapa rekan di Bontang. Ternyata benar. Syahbirin telah meninggal dunia.
Saya mengenal Syahbirin karena sering komunikasi berkaitan dengan pekerjaan, terutama urusan anggaran dan pemerintahan. Terakhir kali kami bertemu, seingat saya saat saya masih menjabat sebagai anggota Bawaslu Kota Bontang. Setelah itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi.

Meski demikian, saya masih mengikuti perjalanan kariernya melalui berbagai pemberitaan. Syahbirin tetap mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Bontang. Hampir seluruh kariernya dihabiskan di bidang pengelolaan keuangan daerah.
Ia pernah bertugas di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), kemudian mendapat amanah di RSUD Taman Husada Bontang, sebelum kembali ke bidang keuangan. Setelah mengikuti seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, ia akhirnya dilantik Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, sebagai Kepala BPKAD pada 5 Januari 2026.
Karena itu, kabar yang saya terima malam itu cukup mengejutkan. Jabatan yang baru beberapa bulan diembannya justru menjadi akhir dari perjalanan panjang pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara.
Berdasarkan informasi yang saya himpun dari sejumlah kolega dan berbagai sumber, Senin sekitar pukul 15.00 Wita, Syahbirin masih menjalankan aktivitas seperti biasa di Kantor BPKAD Kota Bontang. Ia bahkan masih mengikuti agenda pekerjaan bersama jajarannya. Tidak ada yang menyangka beberapa saat kemudian kondisinya mendadak menurun.
Rekan-rekannya segera memberikan pertolongan dan membawa Syahbirin menuju RSUD Taman Husada Bontang. Namun dalam perjalanan menuju rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Dugaan sementara, almarhum mengalami serangan jantung.
Kabar wafatnya dengan cepat menyebar di lingkungan Pemkot Bontang. Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, ASN, sahabat, hingga masyarakat berdatangan ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Karangan bunga ucapan belasungkawa pun terus berdatangan dari berbagai instansi, lembaga, maupun kerabat.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan duka mendalam atas kepergiannya.“Beliau adalah sosok yang berdedikasi tinggi. Sampai akhir hayatnya masih menjalankan tugas dan menangani berbagai agenda penting pemerintah daerah, termasuk penyusunan proyeksi APBD Tahun Anggaran 2027,” ujar Neni.
Ucapan belasungkawa juga datang dari berbagai kalangan. Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, turut mengirimkan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum.
Di lingkungan Pemkot Bontang, Syahbirin dikenal sebagai sosok yang lebih banyak bekerja daripada tampil di depan publik. Bidang pengelolaan keuangan daerah menjadi bagian terbesar dalam perjalanan kariernya.
Pengalaman tersebut mengantarkannya dipercaya memimpin BPKAD, salah satu organisasi perangkat daerah yang memiliki peran strategis dalam mengelola APBD, aset daerah, kas pemerintah, hingga penyusunan laporan keuangan.
Amanah itu belum lama diembannya. Baru enam bulan sejak dilantik sebagai Kepala BPKAD, takdir berkata lain.
Kepergian Syahbirin mengingatkan kita, bahwa jabatan hanyalah titipan. Hari ini seseorang masih memimpin sebuah organisasi, menghadiri rapat, menyusun program dan anggaran. Beberapa jam kemudian, semuanya selesai. Yang tertinggal hanyalah jejak pengabdian, kenangan, dan doa dari orang-orang yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, Muhammad Syahbirin.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilafmu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan menghadapi musibah ini. Aamiin.
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.


