Meski Kelebihan Kapasitas, LPP Tenggarong Tetap Hidupkan Harapan Pembinaan

TENGGARONG — Di tengah bangunan yang kian sesak, Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong tetap berupaya menjaga ruang bagi pembinaan dan harapan. Meski daya tampung hanya 285 orang, kini lapas itu dihuni 371 warga binaan perempuan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara).

Kepala Lapas Perempuan Tenggarong, Riva, mengakui kondisi tersebut sudah jauh dari ideal. “Satu kamar seharusnya 20 orang, tapi sekarang bisa 40 sampai 41 orang,” ungkapnya.

Meski sesak, aktivitas pembinaan tidak berhenti. Lapas tetap menjalankan berbagai program pemberdayaan, mulai dari pelatihan bakery, tata rias, menjahit, hingga menyulam. Kegiatan ini dijalankan bersama Kementerian Agama, HIMPSI, serta relawan dan komunitas sosial.

“Di ruang terbatas ini, kami ingin mereka tetap merasa punya masa depan,” ujarnya.

Kelebihan kapasitas bukan hanya masalah ruang tidur, tetapi juga berdampak pada pemenuhan hak literasi. Riva menyebut, hak membaca menjadi satu-satunya aspek yang belum optimal terpenuhi, meskipun hak kesehatan, makanan, dan kunjungan telah terlayani dengan baik.

Upaya peningkatan literasi, menurutnya, sangat penting untuk mendukung visi Asta Cita pemerintah dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama bagi perempuan. “Perempuan di sini bukan hanya menjalani hukuman, tapi belajar memperbaiki diri. Membaca dan belajar adalah bagian dari itu,” jelasnya.

Sementara itu, pembangunan blok baru yang diharapkan dapat menampung hingga 700 warga binaan masih tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran. Padahal, fondasi bangunan dan tembok keliling sudah berdiri sejak tahun lalu.

“Tahun ini terhenti karena efisiensi. Harapannya 2026 bisa dilanjutkan, karena ini prioritas,” kata Riva.

Pengajuan anggaran sebesar Rp19 miliar telah dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum Kukar. Proyek tersebut direncanakan dikerjakan melalui Pemkab Kukar dengan sistem lelang terbuka.

READ  DKP Kukar Tambah Cool Storage, Dorong Hilirisasi dan Daya Saing Perikanan Lokal

Kondisi lapas juga menggambarkan wajah permasalahan sosial yang lebih luas, sekitar 80 persen penghuni merupakan kasus narkoba. Namun, bagi Riva dan timnya, lapas bukan sekadar tempat menahan, melainkan ruang memulihkan martabat.

“Kami ingin lapas ini menjadi tempat lahirnya perempuan tangguh, bukan sekadar tahanan,” pungkasnya.

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img