TENGGARONG – Tingginya angka putus sekolah di Kutai Kartanegara (Kukar), masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Namun, alih-alih hanya mengandalkan jalur pendidikan formal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar kini menempuh strategi berbeda dengan menghidupkan kembali semangat belajar anak-anak lewat jalur pendidikan non-formal.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itu, mereka menjalin sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Agama, pemerintah desa, hingga kecamatan.
“Pendekatan yang kami lakukan tidak hanya melalui pendidikan formal, namun juga mengedepankan jalur pendidikan non-formal yang saat ini menjadi pilihan utama bagi anak-anak yang putus sekolah,” jelasnya.
Di Kukar saat ini terdapat 19 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan 11 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang siap menampung anak-anak putus sekolah. Dengan total 30 lembaga, jalur non-formal ini menawarkan kesempatan baru untuk menamatkan pendidikan dasar hingga menengah tanpa harus kembali ke bangku sekolah reguler.
Meski wadah sudah tersedia, tantangan terbesar justru datang dari motivasi anak-anak itu sendiri. Banyak diantara mereka yang enggan kembali ke sekolah, meski dengan jalur non-formal.
“Tim kami sudah beberapa kali turun ke lapangan melakukan edukasi dan sosialisasi, namun motivasi untuk sekolah ulang masih cukup sulit ditumbuhkan,” ungkap Pujianto.
Bagi Disdikbud Kukar, menghidupkan kembali semangat belajar anak-anak adalah misi utama. Prosesnya tidak sebentar, tapi diyakini penting untuk membuka masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
“Kami berkomitmen terus memperkuat koordinasi dan pendekatan agar semakin banyak anak putus sekolah yang mau kembali menempuh pendidikan,” tegas Pujianto. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


