TENGGARONG – Modernisasi pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar), kini benar-benar terasa dampaknya. Teknologi drone yang diperkenalkan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar ini, mampu meningkatkan produktivitas petani hingga dua kali lipat. Dari hasil panen rata-rata 3 ton per hektare, kini bisa melonjak menjadi 6 ton per hektare.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, menjelaskan bahwa penggunaan drone merupakan bagian dari uji coba modernisasi pertanian yang dipadukan dengan aplikasi digital farming. Teknologi ini terdiri dari drone sprayer untuk penyemprotan dan drone khusus untuk penebaran benih.
“Di Bukit Biru kami memiliki dua unit drone untuk penyemprotan, sementara di Anggana ada satu unit khusus untuk menebar benih,” ujarnya, Senin (15/9/2025).
Dari hasil uji coba yang dilakukan di lahan seluas 10 hektare di Kelurahan Bukit Biru. Penggunaan drine tidak hanya meningkatkan hasil panen, tapi juga membantu petani lebih efisien dalam bekerja. “Kami optimis dengan pemanfaatan teknologi ini produktivitas pertanian di Kukar akan terus meningkat,” serunya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Bukit Biru, Sudiyarso, mengakui bahwa kehadiran drone membawa dampak besar bagi petani di wilayahnya. Hasil panen yang meningkat dua kali lipat membuat kesejahteraan petani ikut terangkat.
“Yang jelas kan dengan adanya kegiatan hari ini kan sudah jelas ya, dari padi yang biasanya 3 ton menjadi 6 ton kan otomatis tingkat kesejahteraan petani yang ada di wilayah ini kan semakin baik. Saya kira itu sih, poinnya itulah,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa drone juga meringankan beban biaya, tenaga, dan waktu yang biasanya menyulitkan petani. “Oh ya jelas senang, artinya kan dengan adanya ini kan otomatis hemat tenaga, hemat biaya, hemat waktu ya kan. Ya yang jelas sangat berguna sekali lah alat yang bantuan itu untuk para petani yang ada di wilayah kami,” ujarnya.
Sudiyarso menambahkan, dengan dukungan teknologi ini, pola tanam di Bukit Biru bisa ditingkatkan hingga tiga kali setahun. Bahkan, jika diterapkan lebih luas di daerah lain, bukan tidak mungkin Kalimantan Timur menuju swasembada pangan.
“Harapannya hal-hal begini akan selalu terus ditingkatkan ya. Karena kan sudah jelas tadi dengan misalnya panen dari 3 ton ke 6 ton itu apalagi bisa masif di seluruh Kalimantan Timur kan kita bisa swasembada pangan. Dan dimulai dari Bukit Biru lah,” tutupnya. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


