TENGGARONG – Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, semarak merah putih mulai menghiasi Kota Raja Tenggarong. Salah satu titik yang mulai ramai dengan atribut kemerdekaan, berada di Jalan Jenderal Sudirman yang ramai dihiasi dengan deretan pernak pernik khas hari kemerdekaan. Salah satu pedagang yang mangkal disana adalah Opik (40).
Opik bukan pedagang musiman biasa. Ia adalah perantau asal Bandung yang telah mengadu nasib di Tenggarong sejak 18 tahun lalu. Sejak 2013, tiap bulan Agustus ia setia menjual bendera, umbul-umbul, dan berbagai aksesori kemerdekaan sebagai bentuk cinta tanah air dan tentu juga sebagai sumber penghidupan.
“Setiap tahun saya pasti jualan bendera. Dari dulu saya sudah niat, momen Agustusan ini rezeki,” ujarnya sembari merapikan bendera yang berkibar di tepi jalan.
Tahun ini, Opik pindah lapak dari Jalan S. Parman ke Jalan Jenderal Sudirman karena proyek pembangunan. Meski telah mendapat izin Satpol PP, ia mengaku omzetnya menurun drastis dibanding tahun lalu. “Sekarang paling Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per hari. Kalau ramai bisa Rp 1 juta,” katanya.
Keuntungan yang didapat dari tiap bendera pun tak seberapa, hanya sekitar Rp 3 ribu. Namun ia tetap bertahan karena ini satu-satunya usaha musiman yang ia andalkan. Semua stoknya sekitar 500 lembar, didatangkan langsung dari Bandung. Jika tak habis terjual, ia harus menanggung biaya sisanya sendiri ke produsen.
Harga bendera pun beragam. Untuk ukuran standar dibanderol Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu. Sedangkan ukuran panjang bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu, tergantung kualitas kain dan desain.
Meski kondisi ekonomi fluktuatif, semangat Opik tak surut. Ia berharap program pemerintah seperti Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih bisa melibatkan pedagang lokal sepertinya. “Kalau bisa pemerintah beli dari kita-kita di lapangan, bukan dari toko online. Itu kan bantu banget,” tuturnya.
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


