
BERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mengejar pemerataan akses listrik hingga ke wilayah pedalaman. Hingga kini, masih terdapat 15 kampung di Kabupaten Berau yang belum menikmati aliran listrik secara penuh.
Kondisi geografis Berau yang luas menjadi salah satu tantangan utama dalam memperluas jaringan kelistrikan. Jarak antarkampung yang berjauhan, ditambah karakter medan di sejumlah wilayah pedalaman, membuat pembangunan infrastruktur listrik membutuhkan perencanaan dan dukungan anggaran yang tidak sedikit.
Untuk mempercepat penyelesaian persoalan tersebut, Pemkab Berau memilih memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, memimpin langsung koordinasi dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Berau memastikan data kampung yang belum teraliri listrik telah terverifikasi sekaligus membuka peluang masuknya program listrik masuk desa dari pemerintah pusat.
“Agendanya adalah memverifikasi sekaligus mengusulkan program listrik masuk desa,” katanya.
Menurutnya, persoalan elektrifikasi di Berau tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jaringan. Kondisi geografis menjadi faktor yang harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan agar jaringan yang dibangun benar-benar menjangkau permukiman masyarakat.
“Kendala utamanya adalah jarak antarkampung yang sangat jauh,” jelasnya.
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Kelay, Segah hingga Biduk-Biduk menjadi gambaran tantangan tersebut. Sebaran permukiman yang tidak berdekatan serta kondisi medan membuat pembangunan jaringan listrik membutuhkan pemetaan yang lebih detail.
Karena itu, pemerintah tidak bisa menerapkan pola pembangunan jaringan yang sama untuk seluruh wilayah. Setiap lokasi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, termasuk akses menuju kampung, jarak antarpemukiman dan kebutuhan infrastruktur pendukung.
Di tengah persoalan tersebut, Pemkab Berau telah memetakan dukungan pembangunan jaringan listrik di 30 titik strategis sepanjang tahun ini. Pemetaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas cakupan pelayanan listrik sekaligus mempercepat penyelesaian kampung-kampung yang hingga kini belum teraliri listrik.
Berau sendiri bukan satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang menghadapi persoalan pemerataan listrik. Sejumlah kabupaten lain, seperti Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Timur dan Paser, juga masih menghadapi tantangan serupa.
Bagi Berau, percepatan elektrifikasi menjadi bagian penting dari pembangunan wilayah pedalaman. Sebab, keberadaan listrik tidak hanya berdampak pada kebutuhan penerangan rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan pelayanan publik, pendidikan, komunikasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan koordinasi lintas sektor, Pemkab Berau menargetkan persoalan kampung yang belum menikmati listrik dapat dituntaskan secara bertahap.
Pemkab Berau optimistis seluruh kampung yang saat ini masih menghadapi keterbatasan akses listrik dapat menikmati layanan energi secara lebih merata pada 2027 mendatang.
“Listrik bukan sekadar penerangan, melainkan urat nadi untuk mendongkrak pelayanan dasar, aktivitas sosial, dan roda ekonomi masyarakat pedalaman,” tandasnya. (adv)



