
TENGGARONG – Produksi air bersih PDAM di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), turun hingga 50 persen akibat rendahnya debit air baku. Dari kapasitas normal yang mencapai 80 liter per detik, saat ini produksi hanya mampu berada di kisaran 40 liter per detik.
Kondisi tersebut belum pulih meski hujan mulai sering mengguyur sejumlah wilayah Kukar. Intensitas hujan yang belum merata dan masih sporadis membuat pasokan air ke waduk yang menjadi sumber utama PDAM belum kembali normal.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan ketersediaan air baku di Samboja masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Informasi mengenai rendahnya debit air itu diterimanya langsung dari Direktur Utama PDAM.
“Direktur Utama PDAM tadi pagi menyampaikan kepada saya bahwa debit air kita masih sangat rendah. Hujannya juga masih sporadis, sehingga debit air belum normal,” ujar Sunggono.
Penurunan debit tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan PDAM memenuhi kebutuhan pelanggan. Waduk yang selama ini menjadi sumber pasokan belum mampu menyediakan air dalam jumlah yang cukup untuk mendukung kapasitas produksi seperti kondisi normal.
Menghadapi keterbatasan tersebut, Pemkab Kukar mulai menjajaki kemungkinan penggunaan sumber air lain untuk menopang produksi PDAM Samboja.
Sunggono telah meminta Direktur Utama PDAM melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Koordinasi juga melibatkan camat setempat dan sejumlah pihak yang memiliki atau mengelola waduk di kawasan Samboja, termasuk BBS.
Peninjauan itu diarahkan untuk mengidentifikasi sumber air yang berpotensi dimanfaatkan sebagai air baku. Pemerintah ingin memastikan ketersediaan air di lokasi alternatif sekaligus melihat kemungkinan penyalurannya ke instalasi pengolahan milik PDAM.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah waduk lama milik Balai Wilayah Sungai (BWS). Waduk tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi sumber pasokan tambahan, meskipun lokasinya tidak berdekatan dengan infrastruktur PDAM yang saat ini beroperasi.
“Sebetulnya ada waduk yang dibuat oleh BWS, tetapi itu waduk lama dan jaraknya memang agak jauh. Reservoir terdekat milik PDAM hampir sekitar 5 sampai 7 kilometer,” jelasnya.
Jarak tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan sebelum waduk BWS dapat dimanfaatkan. Selain kebutuhan infrastruktur penyaluran, kondisi debit air dan kelayakan pengolahannya menjadi air baku juga harus dipastikan.
Pemkab Kukar belum memastikan waduk BWS akan menjadi sumber air alternatif bagi PDAM Samboja. Rencana tersebut masih membutuhkan pemeriksaan teknis untuk mengetahui apakah ketersediaan airnya mencukupi dan dapat diolah sesuai kebutuhan pelayanan.
Hasil peninjauan lapangan nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan. Pemerintah daerah berharap koordinasi antara PDAM, pemerintah kecamatan, dan pihak terkait dapat menghasilkan solusi yang memungkinkan peningkatan pasokan air baku.
Penanganan ini penting mengingat produksi PDAM yang saat ini hanya sekitar 40 liter per detik belum kembali ke kapasitas normal 80 liter per detik. Selama debit air belum pulih, kemampuan pelayanan air bersih di Samboja masih menghadapi keterbatasan.
Pemkab Kukar pun berupaya mencari sumber pasokan tambahan agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi dengan lebih baik. Namun, pemanfaatan sumber air alternatif tetap harus mempertimbangkan ketersediaan debit, jarak penyaluran, serta kebutuhan pengolahan sebelum bisa digunakan sebagai air baku PDAM. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Nicha R



