JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan akibat penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS.
“Indeks dolar naik menjadi 101,89 dan obligasi pemerintah AS naik 5 bps (basis points) menjadi 4,62 persen, walaupun harga minyak turun,” kata Rully seperti dikutip dari ANTARA di Jakarta, Rabu (4/11).
Menurut dia, kondisi tersebut mengindikasikan pasar keuangan global tengah menghadapi rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer. Situasi ini berpotensi menular ke pasar keuangan berbagai negara, termasuk pasar obligasi Indonesia.
Rully menjelaskan, kenaikan imbal hasil US Treasury turut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan pemerintah AS untuk menarik utang dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, strategi pembelian kembali obligasi (buyback) pemerintah AS dinilai belum berhasil menstabilkan pasar.
Tekanan juga muncul dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebanyak dua hingga tiga kali dalam satu tahun ke depan.
Dari sisi domestik, Rully menilai stabilitas politik dan tata kelola pasar modal turut menjadi perhatian pelaku pasar. Sentimen tersebut mencakup isu dugaan penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara, serta perkembangan evaluasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Kasus penyadapan jelas membuat premi risiko seluruh aset Indonesia naik yang tercermin dari CDS (Credit Default Swap) sudah di atas 100 bps,” ungkap Rully.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen global dan domestik tersebut, Rully memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS. (ANT/KN)



