BONTANG – Perasaan sedih, kecewa, takut, hingga marah merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Namun, ketika emosi tersebut berlangsung berlebihan, sulit dikendalikan, bahkan mendorong seseorang membanting barang, menyakiti diri sendiri atau melukai orang lain, kondisi itu tidak boleh diabaikan. Dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Taman Husada Bontang mengingatkan bahwa perubahan emosi dan perilaku yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari dapat menjadi tanda seseorang membutuhkan pertolongan profesional.
Dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc., Sp.KJ., mengatakan setiap orang memiliki respons emosional ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Rasa sedih, kecewa, marah, maupun takut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental. Emosi tersebut merupakan respons alami manusia terhadap situasi yang dihadapi.
“Semisal kita mengalami rasa sedih, kecewa, marah, dan takut, itu sesuatu hal yang biasa sebenarnya dan normal dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia,” ujar Dewi, Selasa (27/10/2026).
Namun, menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian ketika emosi yang muncul semakin intens, berlangsung berkepanjangan, atau mulai memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah kecemasan yang terus-menerus muncul hingga membuat seseorang merasa takut bertemu atau berinteraksi dengan orang lain.
Perubahan emosi juga dapat terlihat dari kemarahan yang semakin sulit dikendalikan.
Dewi menjelaskan, seseorang yang mengalami kesulitan mengendalikan kemarahan dapat menunjukkan perilaku seperti membanting barang ketika menghadapi persoalan.
Dalam kondisi yang lebih serius, perilaku tersebut bahkan dapat berkembang menjadi tindakan menyakiti diri sendiri maupun melukai orang lain.
“Kalau muncul gejala yang seperti itu, itulah tanda sepertinya kita sudah membutuhkan pertolongan,” jelasnya.
Meski demikian, Dewi menekankan bahwa munculnya emosi negatif tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan kejiwaan.
Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, terutama seberapa kuat emosi tersebut dirasakan, berapa lama berlangsung, dan sejauh mana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Perubahan emosi yang mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan keluarga, maupun interaksi sosial menjadi alasan penting untuk mencari bantuan.
Karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap kondisi mental diri sendiri, termasuk mengenali perubahan perilaku yang sebelumnya tidak biasa terjadi.
Dewi mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut, terutama ketika seseorang mulai mengalami kesulitan mengendalikan respons emosionalnya.
Menurutnya, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dapat membantu seseorang memahami persoalan yang sedang dialami.
Melalui pemeriksaan dan konsultasi, tenaga profesional dapat melakukan penilaian terhadap kondisi mental sekaligus menentukan bentuk pendampingan atau penanganan yang diperlukan.
“Berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah untuk memahami kondisi yang dialami, sekaligus memperoleh penanganan yang sesuai,” tambahnya.
Selain kesadaran individu, dukungan keluarga dan lingkungan terdekat juga memiliki peran penting.
Seseorang yang sedang menghadapi tekanan emosional membutuhkan ruang untuk menyampaikan perasaan dan persoalan tanpa langsung mendapatkan penilaian negatif.
Sikap mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu menciptakan rasa aman sehingga orang yang mengalami kesulitan emosional lebih terbuka mencari pertolongan.
Sebaliknya, mengabaikan perubahan perilaku atau menganggap persoalan kesehatan mental sebagai sesuatu yang memalukan dapat membuat seseorang enggan menyampaikan kondisi yang dialaminya.
Melalui kegiatan penyuluhan kesehatan jiwa yang digelar RSUD Taman Husada Bontang, masyarakat didorong memahami pentingnya menjaga kesehatan mental sebagaimana menjaga kesehatan fisik.
Edukasi tersebut juga bertujuan meningkatkan kesadaran bahwa gangguan kesehatan mental dapat dialami siapa saja dan membutuhkan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Dewi mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai perubahan emosi berkembang menjadi perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Kalau muncul gejala yang seperti itu, itulah tanda sepertinya kita sudah membutuhkan pertolongan,” tegasnya. (Dwi/Adv)
Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S



