BONTANG – Area parkir mobil di RSUD Taman Husada Bontang kerap penuh hingga kendaraan pengunjung terpaksa parkir di luar kawasan rumah sakit. Kondisi ini bukan hanya disebabkan keterbatasan lahan, tetapi juga adanya kendaraan yang sengaja dititipkan pemiliknya selama berhari-hari.
Direktur RSUD Taman Husada Bontang, dr. Suhardi, Sp.JP., FIHA, mengakui keterbatasan kapasitas parkir menjadi salah satu persoalan yang dihadapi rumah sakit, terutama saat aktivitas pelayanan sedang ramai.
Menurutnya, pihak rumah sakit tetap berharap pasien maupun keluarga yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dapat memanfaatkan area parkir di dalam kawasan RSUD. Namun, ketika seluruh tempat parkir terisi, sebagian pengunjung akhirnya memilih memarkirkan kendaraan di luar.
“Iya, hal seperti itu kami sendiri tidak bisa menutup kemungkinan. Harapannya yang berkaitan dengan kebutuhan di RS, sebisa mungkin untuk parkir di dalam. Sudah dilihat juga di dalam tidak ada lagi tempat parkir, makanya mereka keluar lagi hanya untuk parkir,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).

Suhardi menjelaskan, persoalan parkir tidak semata-mata disebabkan keterbatasan lahan. Pihaknya juga menemukan kendaraan yang ditinggalkan pemiliknya selama beberapa hari di area rumah sakit.
Kendaraan tersebut diduga sengaja dititipkan karena pemiliknya memiliki aktivitas di luar RSUD. Kondisi ini membuat kapasitas parkir mobil semakin cepat penuh dan berpotensi mengurangi ketersediaan tempat bagi pasien maupun keluarga yang datang untuk berobat.
“Kadang-kadang istilahnya titip kendaraan. Ada yang beberapa hari titip kendaraannya di sini, atau kemungkinan punya aktivitas di luar RS, tapi titipnya di sini,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian manajemen rumah sakit dalam melakukan penataan parkir. Terlebih, jumlah kunjungan pasien dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan terus meningkat.
Berdasarkan data yang disampaikan pihak RSUD, jumlah kunjungan pada 2024 tercatat sekitar 414 ribu. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 505 ribu kunjungan pada 2025, atau bertambah sekitar 91 ribu kunjungan dalam setahun.
Peningkatan aktivitas pelayanan tersebut turut menambah kebutuhan ruang parkir, baik bagi pasien rawat jalan, keluarga pasien rawat inap, maupun pengunjung lainnya.
Di tengah keterbatasan lahan, keberadaan kendaraan yang ditinggalkan selama berhari-hari semakin mempersempit ruang parkir yang tersedia. Akibatnya, kendaraan pengunjung yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan harus mencari tempat parkir di luar kawasan rumah sakit.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, RSUD Taman Husada berencana mulai memberlakukan sistem parkir berbayar pada awal November 2026.
Tarif yang disiapkan sebesar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp3.000 untuk mobil. Sistem tersebut tidak menggunakan tarif progresif atau tambahan biaya berdasarkan lamanya kendaraan diparkir.
Melalui penerapan kebijakan ini, pihak rumah sakit berharap pengelolaan parkir menjadi lebih tertib dan fasilitas yang tersedia dapat diprioritaskan bagi masyarakat yang benar-benar memiliki keperluan di RSUD.
Meski demikian, penerapan tarif tetap perlu diikuti pengawasan agar kebiasaan menitipkan kendaraan selama berhari-hari tidak kembali mengurangi kapasitas parkir.
Sementara itu, kendaraan yang hanya mengantar atau menjemput pasien melalui sistem drop-off, termasuk ojek online, direncanakan mendapat toleransi tanpa dikenakan retribusi parkir.
Suhardi berharap, setelah sistem parkir berbayar diterapkan, penggunaan lahan parkir dapat lebih terkendali sehingga masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tidak lagi kesulitan mencari tempat.
“Semoga nantinya yang parkir kendaraannya di sini adalah yang memang ada keperluan di RS,” harapnya. (Dwi/Adv)
Editor: Agus S



