Cegah Keracunan MBG, BRIN Kembangkan Sensor Pendeteksi Makanan Basi

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sensor cerdas berbasis material turunan rumput laut untuk memantau kualitas dan kesegaran pangan dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi perubahan kualitas pangan secara lebih cepat, termasuk melalui perubahan warna yang merespons tingkat keasaman (pH) makanan. Sistem ini nantinya akan dipadukan dengan sensor gas dan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan pembacaan kondisi pangan secara lebih presisi.

Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani, menjelaskan sensor tersebut memanfaatkan material alginat-selulosa yang diekstraksi dari ampas rumput laut jenis sargassum dan dipadukan dengan senyawa aktif antosianin sebagai pembawa warna.

Perubahan tingkat keasaman pangan akan memicu perubahan visual pada sensor sehingga dapat menjadi indikator perubahan kualitas makanan.

“Jadi, makanan yang dimakan bapak-bapak sekalian itu ketika dia mengalami penurunan kualitas, dia itu akan mengalami perubahan pH,” kata Amanda di sela kegiatan Gender Equality Learning Program (GELP) Symposium di Jakarta, Selasa (29/9).

Amanda mengatakan teknologi tersebut diproyeksikan untuk mendukung pengawasan rantai pasok MBG, mulai dari bahan pangan dalam kondisi mentah hingga makanan selesai dimasak.

“Jadi, sensor deteksi ini nanti kita integrasikan juga dengan sensor gas semikonduktor kita. Dia bisa mengetahui kualitas pangan, supply chain dari MBG itu, dari yang mentah, sampai yang masak,” ujarnya.

Menurut Amanda, potensi persoalan kualitas pangan dalam operasional MBG tidak hanya muncul ketika makanan telah tersaji. Risiko juga dapat muncul sejak bahan pangan masih dalam kondisi mentah dan belum melalui proses pengolahan.

Karena itu, kemampuan memantau kesegaran bahan pangan secara langsung atau real time dinilai penting. Sistem tersebut diharapkan dapat memberikan peringatan lebih awal tanpa harus selalu menunggu proses pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu.

READ  Pelabuhan Makassar Disiapkan Jadi Hub Ekspor-Impor Kawasan Timur Indonesia

Amanda menjelaskan perubahan warna pada sensor tidak akan menjadi satu-satunya parameter dalam menentukan kondisi pangan.

Hal tersebut diperlukan karena batas antara pangan yang masih segar, setengah segar (sub-fresh), dan telah mengalami kerusakan relatif tipis.

Data perubahan warna nantinya akan diintegrasikan dengan informasi dari sensor gas, analisis kimia, serta teknologi machine learning. Penggabungan sejumlah parameter tersebut ditujukan untuk menghasilkan identifikasi kualitas pangan yang lebih akurat.

Dengan sistem tersebut, sensor tidak hanya memberikan indikasi visual, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem pemantauan kualitas pangan berbasis data.

Selain sensor berbasis material rumput laut, BRIN juga mengembangkan perangkat bernama Food Guard untuk mendukung keamanan pangan dalam program MBG.

Kepala BRIN Arif Satria sebelumnya mengatakan Food Guard dirancang untuk ditempatkan pada wadah makanan atau ompreng MBG dan berfungsi mendeteksi gas yang berkaitan dengan proses pembusukan.

“Salah satu contohnya adalah Food Guard, perangkat yang ditempatkan pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan dengan menggunakan multi-sensor dan model AI,” kata Arif Satria.

Pengembangan berbagai teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN mendukung program prioritas pemerintah, khususnya dalam aspek pemantauan kualitas dan keamanan pangan.

BRIN mengembangkan pendekatan berbasis sensor, analisis kimia, dan AI agar kondisi pangan dapat dipantau sejak bahan baku hingga makanan siap dikonsumsi. (ANT/KN)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img