BNPB Minta 14 Hari Tanggap Darurat Solok Dimaksimalkan

SOLOK – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meminta Pemerintah Kabupaten Solok memaksimalkan 14 hari masa tanggap darurat banjir bandang untuk menuntaskan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.

Suharyanto menegaskan masa tanggap darurat tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan tidak diperpanjang, dengan prioritas utama pencarian korban yang masih hilang, penanganan pengungsi, serta pendataan rumah warga yang mengalami kerusakan.

“Alhamdulillah, Pak Bupati sudah menetapkan status kedaruratan selama 14 hari. Saya minta 14 hari ini jangan diperpanjang,” kata Suharyanto saat meninjau penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Kamis (24/9).

Penanganan bencana kini memasuki hari keempat. Namun, satu korban masih belum ditemukan sehingga tim gabungan diminta terus mengerahkan personel untuk melakukan pencarian.

Suharyanto meminta Polri, Basarnas, TNI, relawan, dan seluruh unsur terkait tetap melakukan pencarian secara maksimal sesuai prosedur yang berlaku.

“Pertama pencarian korban yang masih hilang, cari dulu. Kemudian prioritaskan para pengungsi,” ujarnya.

Selain pencarian korban, BNPB meminta pemerintah daerah segera memperhatikan kondisi masyarakat yang masih mengungsi di tenda. Pengungsi diharapkan tidak terlalu lama tinggal di tempat penampungan darurat tersebut dan segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.

Pemerintah daerah juga diminta mempercepat pendataan rumah terdampak berdasarkan tingkat kerusakan, mulai dari rusak ringan, sedang hingga berat.

Pendataan tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk penanganan serta bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat terdampak.

“Jangan nanti kalau sudah bersih material banjirnya, masyarakat terdampak banjir sudah terlupakan. Kasihan masyarakat kita,” kata Suharyanto.

Bagi warga yang rumahnya rusak dan harus mengungsi di rumah keluarga atau kerabat, pemerintah akan memberikan bantuan sebesar Rp600 ribu per keluarga setiap bulan selama tiga bulan. Total bantuan yang diterima mencapai Rp1,8 juta per keluarga.

READ  37 WNI Pemegang Visa Non-Haji Ditahan Otoritas Keamanan Arab Saudi

Sementara itu, warga terdampak yang tidak memiliki keluarga sebagai tempat mengungsi akan disiapkan hunian sementara. Selanjutnya, mereka diarahkan untuk mendapatkan hunian tetap.

Suharyanto menekankan pentingnya akurasi data warga terdampak agar bantuan dapat segera disalurkan kepada penerima yang membutuhkan.

Menurut dia, kondisi bencana di Kabupaten Solok saat ini cukup berat jika dibandingkan dengan bencana yang terjadi di wilayah tersebut pada 2024.

Karena itu, seluruh unsur terkait diminta bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, dengan keselamatan warga sebagai prioritas utama.

“Dalam penanganan banjir yang paling utama adalah penyelamatan masyarakat terdampak. Orangnya dulu,” tegasnya. (ANT/KN)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img