JAKARTA – Harga minyak dunia yang kembali bergerak tinggi tidak membuat pemerintah menaikkan harga BBM subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat.
Bahlil mengatakan keputusan tersebut diambil sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan harga minyak dunia sekaligus menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga harga BBM subsidi tetap terjangkau.
“Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil kepada wartawan di kantornya seperti dilansir dari Warta Ekonomi, Minggu (13/9/2026).
Menurut Bahlil, mempertahankan harga BBM subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia bukan keputusan yang mudah. Pasalnya, semakin tinggi harga minyak, semakin besar pula potensi beban subsidi yang harus ditanggung negara.
Namun, pemerintah menilai menjaga daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama.
“Karena pasti penambahan subsidinya nambah. Tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk meningkat ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan,” tegasnya.
Salah satu opsi yang disiapkan pemerintah yakni menambah anggaran subsidi. Langkah tersebut dinilai diperlukan apabila tekanan harga minyak dunia terus meningkatkan kebutuhan subsidi energi.
“Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan,” kata Bahlil.
Bahlil menjelaskan harga Indonesian Crude Price (ICP) saat ini berada di kisaran 106-108 dolar AS per barel. Kendati demikian, pemerintah tidak hanya melihat pergerakan harga minyak pada satu waktu dalam menentukan kebijakan.
Menurutnya, rata-rata ICP sejak Januari hingga September 2026 masih berada pada kisaran 85-90 dolar AS per barel.
“Tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar 85-90 dolar AS per barrel. Jadi masih overall,” ujarnya.
Di pasar global, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup pada level 104,61 dolar AS per barel pada Jumat (11/9/2026).
Harga tersebut memang turun 3,02 dolar AS atau 2,81 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Namun, level harga minyak yang masih berada di atas 100 dolar AS per barel tetap menjadi tekanan bagi negara-negara konsumen energi, termasuk Indonesia.
Pemerintah kini terus memantau perkembangan harga minyak dunia untuk menentukan langkah fiskal dan energi berikutnya.
Untuk sementara, Bahlil menegaskan harga BBM subsidi tetap dipertahankan tanpa kenaikan, dengan alasan utama menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian harga energi global. (WE/KN)



