PISA 2025: Skor Sains dan Membaca Indonesia Naik, Matematika Masih Jadi PR

JAKARTA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan rapor pendidikan Indonesia yang penuh kontras. Skor sains dan membaca siswa Indonesia sama-sama naik enam poin dibandingkan 2022, tetapi kemampuan matematika masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di sisi lain, siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu (curiosity) tinggi, namun growth mindset masih rendah dan disparitas capaian antarwilayah tetap terlihat.

Skor sains Indonesia pada PISA 2025 mencapai 389, naik dari 383 pada 2022. Skor membaca juga meningkat dari 359 menjadi 365. Sementara skor matematika turun dua poin menjadi 364.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Prof. Dr. Toni Toharudin, mengatakan capaian tersebut tidak cukup dibaca hanya dari perubahan skor. Perluasan akses pendidikan dalam dua dekade terakhir juga menjadi konteks penting dalam melihat hasil PISA Indonesia.

“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” ujar Toni dalam konferensi pers Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Salah satu indikatornya terlihat dari Coverage Index, yakni proporsi murid usia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal. Ketika pertama mengikuti PISA pada 2003, indeks Indonesia berada di angka 0,46. Pada 2025, angkanya mencapai 0,90 atau hampir dua kali lipat.

Kemendikdasmen menilai perluasan akses pendidikan tersebut berlangsung tanpa diikuti kemerosotan besar pada capaian pembelajaran.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher turut mengapresiasi capaian Indonesia. Ia menilai Indonesia mampu menghadapi tantangan yang juga dihadapi banyak negara, yakni memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.

Namun, di balik kenaikan skor sains dan membaca, kemampuan matematika menjadi sorotan. Hasil PISA 2025 menunjukkan hanya 16,93 persen siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum literasi matematika.

READ  Bukan Cuma Koruptor, DPR Usulkan 13 Kejahatan Bisa Kena Perampasan Aset

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed., mengatakan persoalannya bukan sekadar siswa tidak mampu menghitung. Tantangan justru muncul ketika siswa harus menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam bahasa atau formula matematika.

Menurutnya, siswa yang telah mencapai kompetensi minimum pada dasarnya mampu mengaitkan persoalan sehari-hari dengan konteks atau formula matematika. Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika mereka harus memilah informasi, memahami grafik atau tabel, menentukan data yang relevan, kemudian menerjemahkannya ke dalam model matematika.

“Pemecahan masalah sehari-hari itu ada informasi, baik dalam bentuk teks, grafik, maupun tabel. Informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan. Kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi sebelum memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut,” jelas Rahmawati.

Ia mencontohkan soal PISA yang menyajikan sejumlah titik data penjualan dalam grafik. Siswa harus memahami informasi pada grafik, termasuk garis linear sebagai best fitting line, kemudian menerjemahkan informasi tersebut ke dalam representasi matematika.

“Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari jawabannya. Tapi kalau ditanyakan seperti ini, diperlukan kemampuan yang lain, bukan sekadar mengomputasi,” katanya.

Rahmawati menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembelajaran matematika yang tidak berhenti pada hafalan rumus, tetapi mendorong pemahaman konsep dan kemampuan memecahkan persoalan nyata.

Toni sependapat. Menurutnya, hasil PISA menjadi sinyal untuk memperkuat kemampuan bernalar dan pemecahan masalah siswa.

“Pembelajaran ini tentunya akan lebih diarahkan kepada pemahaman konsep, kemudian penerapan di dalam kehidupan yang nyata dan juga pemecahan masalah. Bukan sekadar menghafal rumus,” ujar Toni.

Menurutnya, Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga perlu dimanfaatkan sebagai alat diagnostik untuk mengetahui kemampuan siswa sekaligus mengidentifikasi satuan pendidikan yang membutuhkan intervensi dan pendampingan.

Dukungan perubahan pembelajaran akan dilakukan melalui penyediaan buku, pelatihan guru, asesmen, dan pendampingan sekolah. Toni mengatakan kurikulum nasional sebenarnya telah memberikan ruang bagi penguatan literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar melalui pendekatan pembelajaran mendalam.

READ  Tanggapi Pernyataan Surya Paloh, KPK: OTT Bupati Kolaka Timur Sesuai Aturan

Selain kemampuan akademik, hasil kuesioner PISA terhadap siswa dan kepala sekolah juga memperlihatkan temuan yang menarik. Tingkat keingintahuan atau curiosity siswa Indonesia tergolong tinggi, bahkan berada di atas rata-rata OECD.

Namun, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan growth mindset. Keyakinan siswa bahwa kemampuan mereka dapat berkembang dari tidak bisa menjadi bisa masih tergolong rendah.

“Bahwa rasa kita bisa bertumbuh, kita bisa, dari tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari bodoh menjadi pintar. Rasa growing mindset ini masih menjadi catatan,” kata Rahmawati.

Rahmawati juga mengingatkan bahwa stabilnya capaian Indonesia perlu dilihat dalam konteks perluasan akses pendidikan. Kelompok siswa yang belakangan memperoleh akses pendidikan umumnya berasal dari wilayah terpencil dan kelompok sosial ekonomi lebih rendah.

“Ketika mereka masuk ke sistem pendidikan, pada umumnya nilai itu akan breakdown, akan menurun. Tetapi untuk hasil Indonesia di PISA ini dalam beberapa kategori bisa dikatakan stabil,” ujarnya.

Selain itu, perbandingan hasil antarperiode perlu mempertimbangkan perubahan moda tes. Indonesia mulai beralih dari Paper Based Test (PBT) ke Computer Based Test (CBT) pada 2018. Pandemi Covid-19 juga memengaruhi proses pembelajaran pada periode 2018–2022.

Persoalan lain yang terlihat adalah disparitas capaian antarwilayah. Hasil oversample menunjukkan rata-rata skor sains DKI Jakarta berada di angka 427, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 522.

“Di sini kita juga perlu mengakui bahwa ada disparitas antarwilayah yang ada di Indonesia,” ujar Rahmawati.

Dari sisi dukungan terhadap siswa, dukungan guru dinilai relatif baik. Sebaliknya, dukungan keluarga terhadap proses belajar siswa masih relatif rendah dibandingkan hasil secara global.

Di tengah berbagai temuan tersebut, PISA 2025 juga mencatat potensi siswa Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi. Murid Indonesia menunjukkan kemampuan relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan sejumlah mata pelajaran konvensional.

READ  Polda Metro Jaya Pastikan Selebgram AWS Bukan Korban Begal

Mereka juga lebih sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial (AI) dibandingkan murid di banyak negara lainnya.

Karena itu, pemerintah tidak melihat AI sebagai sesuatu yang harus dihindari. Toni menegaskan teknologi tersebut harus digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir siswa, bukan menggantikannya.

“AI ini harus sejalan dengan penguatan literasi, numerasi dan juga bernalar. Jadi bukan AI ini untuk melemahkan, tetapi memperkuat,” tegas Toni.

Melalui pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial yang mulai diperkenalkan dalam kurikulum, pemerintah ingin membentuk siswa bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pengguna AI yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Sebagai tindak lanjut hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menyiapkan empat pilar strategi. Pertama, penguatan kompetensi guru melalui pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta kompetensi pedagogik dan digital, termasuk koding dan AI.

Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, penguatan literasi-numerasi, dan karakter siswa.

Ketiga, harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan TKA dengan kompetensi bernalar dalam kerangka PISA.

Keempat, penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.

Kemendikdasmen juga menyediakan sejumlah platform pembelajaran dan asesmen yang dapat dimanfaatkan guru dan siswa secara mandiri, seperti Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.

Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan bernalar, literasi digital, pemecahan masalah, dan kemandirian belajar siswa.

Dengan demikian, hasil PISA 2025 tidak sekadar menjadi catatan mengenai naik atau turunnya skor.

Di satu sisi, Indonesia menunjukkan kemajuan pada sains dan membaca sekaligus berhasil memperluas akses pendidikan. Di sisi lain, kemampuan matematika, growth mindset, kesenjangan antarwilayah, serta keterlibatan keluarga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab melalui perubahan kualitas pembelajaran di ruang kelas. (cha/KN)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img