JAKARTA – Rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan pekan ini. Nilai tukar rupiah dibuka melemah 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.750 per dolar Amerika Serikat (AS), Senin (31/8/2026).
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Jumat (28/8/2026), rupiah berada di level Rp17.693 per dolar AS. Pelemahan pagi ini sekaligus membalik penguatan rupiah pada akhir pekan lalu.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika pasar kembali mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS dapat bertahan tinggi, bahkan berpeluang kembali dinaikkan apabila inflasi belum bergerak menuju target 2 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS menguat 0,55 persen menjadi 99,70 setelah pernyataan Warsh.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed pun berubah. Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 meningkat menjadi sekitar 57 persen, dari sebelumnya sekitar 35 persen.
“Warsh menegaskan bahwa target inflasi The Fed sebesar 2 persen tetap menjadi ‘target yang tegas dan tetap’, serta menyebut inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan yang memadai,” kata Andry, Senin (31/8).
Menurut dia, laporan ketenagakerjaan AS Agustus juga akan menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan pasar untuk membaca langkah The Fed berikutnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi sebelumnya memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.690-Rp17.750,” kata Ibrahim dalam analisisnya.
Selain kebijakan The Fed, pelaku pasar mencermati data ekonomi dalam negeri, terutama inflasi dan perdagangan Indonesia yang dijadwalkan dirilis Selasa (1/9/2026) besok.
Menurut Ibrahim, angka inflasi akan menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
“Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan,” ujarnya.
Bank Indonesia sendiri masih mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 18–19 Agustus 2026 dengan salah satu pertimbangan menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya gejolak global.
BI juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Bank sentral menyatakan strategi tersebut akan terus ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memitigasi dampak rambatan gejolak global terhadap inflasi dalam negeri.
Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah pada Jumat (28/8/2026) berada di Rp17.703 per dolar AS. Posisi tersebut sebenarnya sudah menguat dibanding 19 Agustus yang masih berada di Rp17.844 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada awal September selanjutnya akan ditentukan sejumlah sentimen, terutama data inflasi dan perdagangan Indonesia, perkembangan dolar AS, serta sinyal terbaru mengenai arah suku bunga The Fed. (zac/MK)
Editor: Agus S



