SAYA sudah berada di Balikpapan sejak Rabu (6/8). Awalnya karena mendapat undangan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim Ajid Kurniawan untuk berdiskusi bersama sejumlah pimpinan media.
Rencana saya tidak lama. Kamis (7/8) sudah kembali. Ternyata ada agenda lain yang baru saya ketahui setelah berada di Balikpapan.
Direktur Radar Ibukota Nur Robbi Syai’an mengabarkan bahwa Vice President Corporate Communication PT Astra Agro Lestari Mochamad Husni sedang berada di Balikpapan. Pak Husni menghadiri 9th Borneo Forum 2026 yang digelar GAPKI Kaltim di Platinum Hotel & Convention Hall.
Saya langsung teringat, masih ada Media Kaltim Network Appreciation Award 2026 untuk Pak Husni yang belum sempat diserahkan.
PT Astra Agro Lestari selama ini sudah cukup dekat dengan jaringan kami, terutama di Penajam Paser Utara (PPU). Di sana ada PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN), dua perusahaan perkebunan sawit yang merupakan bagian dari grup Astra Agro.
Mumpung Pak Husni berada di Balikpapan, saya langsung menyempatkan diri untuk ikut menyerahkannya. Saya datang bersama Direktur Radar Ibukota Robbi Syai’an, Direktur Radar Balikpapan Andrie Aprianto, serta tim Radar PPU dan Balikpapan.
Kami sempat menunggu karena Pak Husni masih mengikuti rangkaian Borneo Forum di lantai 3. Setelah agendanya selesai, kami diarahkan menuju stan PT Astra Agro Lestari yang juga berada di lantai yang sama.
Itulah pertama kali saya bertemu langsung dengan Pak Husni. Sebelumnya saya mengenalnya dari komunikasi dengan tim. Saat HUT ke-6 Media Kaltim, Pak Husni juga menyempatkan membuat video ucapan. Ia sempat meminta maaf karena tidak bisa hadir pada Media Kaltim Network Appreciation Night di Samarinda, 14 Juli lalu.
Bagi saya tentu tidak masalah. Justru akhirnya kami bisa bertemu langsung di Balikpapan. Award kami serahkan di stan Astra Agro. Setelah foto bersama, Pak Husni ternyata masih punya waktu. Kami turun ke kafe di lantai 2 hotel. Duduk satu meja, pesan minuman, lalu ngobrol cukup lama.

Awalnya soal media. Saya baru tahu Pak Husni bukan orang baru di dunia pers. Ia pernah menjadi wartawan dan sampai sekarang masih dekat dengan lingkungan media. Saat ini ia juga menjadi salah satu Dewan Pakar PWI Pusat.
Pantas saja kalau bicara soal media cepat nyambung. Kami bicara soal perkembangan perusahaan pers, hubungan media dengan perusahaan, sampai kondisi industri media sekarang yang pilihannya semakin banyak.
Saya sampaikan, bagi kami membangun hubungan dengan mitra tidak selalu harus dimulai dengan urusan kerja sama. Komunikasi dan kepercayaan lebih dulu. Media menunjukkan kualitas kerjanya. Kalau kemudian ada ruang untuk berkolaborasi, tentu bisa dibicarakan.
Dari media, obrolan bergeser ke sawit. Borneo Forum yang dihadiri Pak Husni memang membahas berbagai persoalan industri kelapa sawit. Mulai produktivitas, inovasi, regulasi hingga keberlanjutan.
Salah satu yang cukup lama kami bicarakan adalah bagaimana informasi mengenai sawit sampai kepada masyarakat.
Pak Husni mengakui industri sawit punya banyak tantangan. Salah satunya persepsi negatif yang masih cukup kuat. Menurutnya, kalau penjelasan selalu datang dari perusahaan atau asosiasi, masyarakat bisa saja menganggapnya sebagai pembelaan dari pelaku industri.
“Kalau kami yang ngomong, orang bilang ya sudah jelas, dari industri. Tapi kalau akademisi yang bicara berdasarkan riset, orang lebih percaya,” katanya.
Dari situlah kami bicara soal akademisi di daerah. Menurut Pak Husni, banyak kampus di Kalimantan sebenarnya punya peluang melakukan penelitian mengenai sawit. Industri dan perkebunannya juga berada di daerah. Namun ketika ada pembahasan soal sawit di tingkat nasional, pengamat dan ahli yang muncul masih banyak berasal dari Jakarta.
Ia ingin lebih banyak akademisi daerah melakukan riset dan menyampaikan hasilnya kepada publik. Media bisa ikut memberi ruang.
Saya tertarik dengan gagasan itu. Kaltim punya banyak kampus dan peneliti. Industri sawitnya juga besar. Mestinya banyak persoalan bisa diteliti langsung dari daerah, kemudian hasilnya disampaikan kepada masyarakat.
Media tetap harus kritis. Tetapi kritik juga harus berdasarkan data. Kalau ada hasil penelitian yang menunjukkan sisi positif maupun persoalan yang harus diperbaiki dari industri sawit, semuanya layak disampaikan.
Kami juga sempat membicarakan peluang kolaborasi antara industri, akademisi dan media. Pak Husni menjelaskan ada ruang pendanaan untuk riset dan promosi sawit melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Selama ini, menurutnya, kegiatan seperti itu masih banyak melibatkan lembaga maupun media di Jakarta. Media dan perguruan tinggi di daerah juga semestinya bisa mengambil bagian.
Obrolan kemudian masuk ke produktivitas. Menurut Pak Husni, inilah salah satu tantangan utama industri sawit sekarang. Permintaan terus meningkat, sementara penambahan lahan semakin terbatas. Karena itu, produksi harus ditingkatkan dari kebun yang sudah ada.
Riset menjadi penting. Mulai pengembangan bibit, pemupukan hingga pengelolaan tanaman agar produksi per hektare meningkat.
Ia memberi gambaran, produktivitas yang saat ini berada di kisaran 3,8 hingga 4 ton per hektare perlu terus didorong lebih tinggi. “Lahannya tidak mungkin terus ditambah. Jadi bagaimana lahan yang ada bisa menghasilkan lebih banyak,” katanya.
Persoalan itu bukan hanya di perusahaan besar. Pekebun rakyat juga menghadapi tantangan produktivitas yang sama.
Dari produktivitas, kami masuk ke regulasi. Kalau ditanya salah satu persoalan yang paling dirasakan industri sawit sekarang, jawaban Pak Husni adalah kepastian hukum.
Ia menyinggung perubahan kebijakan yang berkaitan dengan lahan dan kawasan hutan. Menurutnya, perusahaan membutuhkan aturan yang jelas dan konsisten. Jangan sampai perusahaan sudah mengikuti ketentuan yang berlaku, kemudian muncul aturan baru yang membuat persoalannya berubah lagi. “Kalau saya bilang, salah satu yang paling penting itu kepastian hukum,” ujarnya.
Cukup lama kami membicarakan bagian ini. Pak Husni memberikan beberapa contoh persoalan yang dihadapi perusahaan. Saya lebih banyak mendengar.
Bagi saya, informasi seperti ini penting untuk mengetahui persoalan sawit dari sisi pelaku usaha. Tentu bukan satu-satunya sisi. Ada pemerintah, petani, masyarakat, akademisi dan kelompok yang selama ini kritis terhadap industri sawit.
Media harus mendengar semuanya.
Pak Husni juga menilai masyarakat dan pemerintah daerah di Kalimantan maupun Sumatera relatif lebih memahami industri sawit karena merasakan langsung dampaknya. Ada tenaga kerja yang terserap, kegiatan ekonomi yang bergerak, sampai usaha masyarakat yang ikut tumbuh.
Namun perusahaan juga tetap harus terbuka terhadap kritik dan terus memperbaiki diri.
Tidak terasa kami sudah cukup lama ngobrol. Padahal awalnya saya hanya ingin datang untuk menyerahkan award. Akhirnya bukan hanya award yang tersampaikan. Saya juga mendapat banyak informasi soal sawit dan beberapa gagasan yang mungkin bisa ditindaklanjuti.
Untung hari itu saya belum keburu pulang dari Balikpapan. (*)
Oleh: Agus Susanto




