TANGERANG SELATAN – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kinerja ekonomi Indonesia terus menunjukkan penguatan. Hal ini disampaikan sebagai respons kritik sejumlah lembaga pemeringkat dan analis internasional terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Ini juga sebagai salah satu alasan dirinya sempat menyampaikan sambutannya dengan bahasa Inggris adalah agar pesannya dapat didengar langsung oleh pihak-pihak internasional yang selama ini mengkritik kebijakan fiskal Indonesia.
“Melihat perkembangan beberapa bulan terakhir, mengapa saya berbicara dalam bahasa Inggris pada sesi ini? Karena para analis Barat dan lembaga pemeringkat internasional terus menyerang kami sejak September tahun lalu, saat saya mulai menjabat,” ujarnya saat menghadiri Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD Tangerang Selatan, Selasa (4/8/2026).
Purbaya kemudian menyebut beberapa nama lembaga internasional seperti MSCI, Fitch, dan Moody’s yang menurutnya berulang kali menyampaikan penilaian bahwa pemerintah tidak menjalankan kebijakan fiskal secara baik.
Menurutnya, kritik tersebut tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. Ia menyebutkan, pemerintah justru berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi.
Purbaya menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV 2025 dan meningkat menjadi 5,6 persen pada kuartal I 2026.
“Ekonomi kita membaik secara signifikan, tetapi para ekonom dan media dari negara-negara Barat terus mengatakan bahwa saya tidak cukup pintar menjalankan kebijakan fiskal. Mereka salah. Saya pintar,” ujarnya yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Diketahui, beberapa waktu lalu lembaga pemeringkat global Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan.
Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, yang menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih dinilai memadai di tengah meningkatnya berbagai risiko.
Perubahan outlook ini terutama dipicu oleh menurunnya kepastian dalam proses perumusan kebijakan serta indikasi pelemahan tata kelola. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi efektivitas kebijakan pemerintah dan secara bertahap mengikis kredibilitas yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sektor keuangan Indonesia.
Tak hanya itu, Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga sempat menurunkan kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis Kamis (18/6/2026) lalu.
Keputusan ini diambil setelah MSCI kembali menegaskan kekhawatirannya terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
MSCI menjelaskan penurunan kriteria arus informasi ini mencerminkan adanya ketidakjelasan atau opacity pada data kepemilikan dan aktivitas pasar. Hal tersebut dinilai merusak pembentukan harga yang wajar, serta membatasi kemampuan investor global untuk menilai jumlah saham beredar di publik (true free float) dari perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.
Pewarta/ Editor : Nicha R



