TOKYO – Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di China, Selasa, untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping mengenai energi dan dunia multipolar, hanya beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke negara Asia tersebut.
Menurut Kyodo, yang mengutip media milik Pemerintah China, setelah Putin dan Xi melakukan pembicaraan, China dan Rusia akan menandatangani beberapa pernyataan bersama tentang penguatan kemitraan bilateral dan membangun dunia multipolar sebanyak sekitar 40 dokumen bilateral.
Menurut pernyataan Kremlin, Putin juga dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri (PM) China Li Qiang.
Xi dan Putin kemungkinan juga akan membahas kondisi perang Amerika Serikat dan Israel yang sedang berlangsung melawan Iran dan kerja sama energi bilateral. Rusia merupakan pemasok minyak mentah utama bagi kekuatan ekonomi Asia tersebut.
Sebelum lawatannya ke China, Putin mengatakan dalam pernyataannya di video bahwa hubungan Rusia-China telah mencapai tingkat yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, menurut kantor berita Xinhua.
Pada Senin (18/5), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan dalam konferensi pers bahwa kemitraan strategis komprehensif antara China dan Rusia telah memberikan kontribusi penting untuk menjaga stabilitas strategis global serta menegakkan keadilan dan kesetaraan internasional.
“Kedua pihak akan memanfaatkan kesempatan ini untuk terus memperdalam dan meningkatkan hubungan antara China dan Rusia, sehingga dapat memberikan lebih banyak stabilitas dan energi positif bagi dunia,” kata Jiakun.
Kunjungan Putin ke China dalam rangka memperingati 25 tahun penandatanganan “Perjanjian Hubungan Bertetangga Baik dan Kerja Sama Persahabatan antara China dan Rusia”.
Terakhir, Putin berkunjung ke Beijing adalah pada bulan September 2025 untuk menyaksikan parade militer dalam rangka peringatan 80 tahun penyerahan Jepang di Perang Dunia II.
China dan Rusia telah memperkuat hubungan bilateral mereka dalam beberapa tahun terakhir, dengan Beijing menentang sanksi Barat terhadap Moskow atas invasi skala penuh ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022. (ANT/KN)
Sumber: Kyodo


