TENGGARONG – Perubahan cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi mulai menjadi momok baru bagi para pembudidaya ikan di Kutai Kartanegara (Kukar). Pergantian cepat antara kemarau panjang dan pasang surut air sungai kini tak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga mengancam kesehatan ikan di berbagai sentra perikanan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, menyebut fenomena ini menuntut pembudidaya untuk lebih peka terhadap manajemen air dan keseimbangan ekosistem kolam. Kondisi air yang tidak stabil bisa menjadi pemicu utama munculnya berbagai penyakit ikan yang berujung pada kerugian besar.
“Makanya sejak awal kami selalu mengedukasi para pembudidaya tentang cara budidaya dan pembenihan ikan yang baik. Mulai dari pengelolaan air, menjaga kesehatan ikan, hingga pengaturan pakan,” ujarnya belum lama ini.
Muslik menegaskan bahwa pengelolaan air yang buruk dan kepadatan tebar berlebih menjadi dua penyebab paling umum timbulnya penyakit. Karena itu, edukasi rutin diberikan agar petani ikan memahami pentingnya menjaga sirkulasi air dan melakukan pengawasan kesehatan sejak fase awal pemeliharaan.
Ia menjelaskan, karakteristik antara kolam tertutup dan perairan terbuka seperti sungai memiliki perbedaan signifikan. Di perairan terbuka, pembudidaya harus lebih berhati-hati karena kualitas air sulit dikendalikan.
“Kalau di sungai, karena sifatnya terbuka, kita tidak bisa mengendalikan kualitas air sepenuhnya. Tapi kita selalu mengimbau agar waspada terutama saat musim kemarau dan air pasang,” lanjutnya.
Fenomena alam yang paling sering terjadi di wilayah hilir Kukar adalah air bangar, yakni kondisi saat air sungai berubah payau akibat bercampur dengan air laut. Situasi ini menurunkan kadar oksigen terlarut dan membuat ikan stres, membuka peluang terjadinya infeksi.
Berbagai penyakit ikan kini kian mudah muncul, terutama saat fluktuasi suhu ekstrem. Muslik menyebut beberapa di antaranya seperti Aeromonas yang menyebabkan borok dan kematian massal, Ich atau white spot yang menyerang kulit serta insang, dan Saprolegnia, jamur yang tumbuh akibat kualitas air yang buruk.
Untuk mencegah hal tersebut, DKP Kukar terus mendorong penerapan biosecurity sederhana di tingkat pembudidaya. Langkah ini mencakup desinfeksi peralatan, pengaturan kepadatan ikan, serta pemeriksaan kesehatan ikan secara berkala.
Harapannya, pembudidaya di Kukar tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan semata, tetapi juga memahami aspek kesehatan ikan secara ilmiah dan berkelanjutan.
“Kesehatan ikan itu sama pentingnya dengan produktivitas. Kalau tidak dijaga sejak awal, kerugiannya bisa berantai,” pungkasnya. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


