BANDUNG – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Gedung Sabuga Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Kamis (7/8/2025). Acara ini dihadiri oleh para ilmuwan, peneliti, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor industri dan pemerintah.
Namun, sebelum Presiden menyampaikan sambutan, seluruh wartawan yang berada di dalam ruangan diminta untuk keluar. Hal ini memicu pertanyaan dari awak media mengenai alasan di balik pelaksanaan pembukaan yang tertutup.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Prabowo menyatakan bahwa langkah itu dilakukan agar diskusi dapat berlangsung lebih bebas dan tidak ditarik ke ranah politik.
“Biar lebih bebas. Jangan dipelintir, jangan dipolitisasi. Ini kan kita bicara ilmu, kita bicara ilmu sains teknologi,” ujar Presiden usai acara.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menjawab pertanyaan media terkait pernyataan Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, mengenai klaim kedaulatan atas wilayah Blok ND-6 dan ND-7 (yang dikenal sebagai wilayah Ambalat oleh Indonesia) di Laut Sulawesi.
“Ya kita cari penyelesaian yang baik, yang damai. Itikad baik dari kedua belah pihak. Kita jangan… sudah lah, intinya kita ingin penyelesaian yang baik,” tegas Prabowo.
Terkait rencana peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, Presiden menyatakan bahwa acara kenegaraan akan digelar secara sederhana, mengingat fokus pemerintah masih tertuju pada penyelesaian persoalan-persoalan mendesak yang dihadapi rakyat.
“Kita relatif sederhana dulu lah. Kita masih banyak pekerjaan untuk rakyat,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, KSTI 2025 merupakan forum kolaboratif yang mempertemukan lebih dari seribu ilmuwan dan peneliti dari seluruh Indonesia, dengan tujuan memperkuat koneksi antara hasil riset dan kebutuhan industri nasional.
Pewarta : Nicha R


