Lengser dari Bupati Kukar, Edi Damansyah Lebih Sering Gowes dan Nongkrong di Warung

Tidak banyak mantan kepala daerah yang menikmati hari-harinya setelah lengser. Sebagian memilih diam, sebagian lain menjauh dari sorotan publik. Tapi Edi Damansyah, mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), mengambil jalan berbeda.

Sejak resmi lengser pada 23 Juni 2025, ia justru makin sering muncul, tapi bukan di acara resmi. Ia ada di jalan kampung, di warung kopi, di lapangan sepi. Datang sendirian, tanpa ajudan, tanpa rombongan. Bukan sebagai pejabat, tapi sebagai warga biasa.

Di salah satu videonya di TikTok, Edi tampak sedang gowes menyusuri daerah Mangkurawang. Jalurnya sepi, dikelilingi pepohonan. Ia mengayuh santai, menyapa orang-orang yang ia lewati. “Pagi yang menyenangkan,” tulisnya. Saya sempat berpikir, mungkin ini caranya melepaskan. Bukan dengan menghilang, tapi dengan tetap hadir.

Ada juga video saat ia duduk bersila di warung sederhana. Minum teh susu, makan gorengan, ngobrol ringan dengan warga. Tak ada gimmick. Tak ada pesan-pesan politik. Tapi justru dari kesederhanaan itu, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang utuh.

Dalam unggahan lainnya, ia tampak berbincang dengan seorang pemuda asal Samarinda penjual kue. Sang pemuda rupanya sedang kuliah di Malang sambil membuka usaha untuk bertahan. Edi mendengarkan tanpa menyela, lalu memberi semangat. Tanpa naskah, tanpa pencitraan. Tapi saya yakin, pertemuan itu tak akan dilupakan si anak muda.

Yang paling mengharukan, video saat ia berada di Kutai Timur. Memberi semangat untuk kafilah MTQ Kukar. Di tengah ucapannya, ia menahan tangis. “Mun urusan Al-Qur’an dan pembinaan, air mata saya ndak tetahani,” ucapnya pelan. Tanpa musik latar, tanpa editan. Tapi terasa dalam.

Kadang saya berpikir, jangan-jangan beliau lebih sibuk sekarang dibanding saat menjabat dulu. Hampir tiap hari ada saja kegiatannya: gowes pagi, mampir warung jamu, jajan martabak rumahan, menyapa penjual gorengan di Loa Tebu, atau mempromosikan sop tulang langganan di poros Kukar–Kubar. Aktivitas biasa, tapi terasa istimewa karena dilakukan oleh mantan pemimpin daerah.

READ  Selambai Malam Hari: Akses Mudah, Pujasera Tertata, Wisata Menjanjikan

Di linimasa saya, unggahannya selalu muncul. Algoritma seolah paham betul saya tak pernah skip videonya. Tapi bukan karena visualnya menarik, melainkan karena isinya jujur. Ia tidak sedang membangun citra. Ia sedang menjaga hubungan.

Ia juga konsisten mendukung UMKM lokal. Nasi kuning IJAY di Samarinda, martabak di Loa Tebu, sop tulang di tepi jalan. Semua dipromosikan dengan cara yang sederhana—cukup mampir, beli, dan unggah.

Gaya komunikasinya khas. Di akhir unggahan, sering ada kalimat ini: “Jangan lupa bahagia.” Ringan, tapi membekas. Diucapkan oleh seseorang yang dulu memimpin daerah terkaya di Kaltim, tapi kini cukup duduk di bangku plastik sambil menyeruput teh.

Edi Damansyah bukan sosok baru di birokrasi. Ia pernah menjadi Wakil Bupati, lalu naik sebagai Plt Bupati saat Rita Widyasari tersandung kasus. Ia ditetapkan sebagai bupati definitif tahun 2019, dan menang lagi dalam Pilkada 2020 dengan dukungan PDI Perjuangan. Ia menyelesaikan masa jabatannya hingga 2025—tenang, bersih, tanpa gaduh.

Sekarang, ia hadir dalam bentuk yang berbeda. Tidak lagi lewat podium atau konferensi pers. Tapi lewat obrolan di warung, senyum pagi di atas sepeda, dan sapaan akrab kepada penjual keliling.

Ketika banyak mantan pejabat berlindung di balik status, Edi malah turun langsung. Ia memilih jalan biasa, tapi meninggalkan kesan yang nyata. Itulah pemimpin: tak perlu pangkat untuk tetap bekerja.

Oleh: Agus Susanto S.Hut., S.H., M.H.

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img