Taman Adipura dan Bontang Kuala-Edukasi Kian Terlupakan

Selasa, 24 Juni 2025. Seusai meninjau Stadion Bessai Berinta (Lang-Lang), saya mengarahkan kendaraan menuju dua taman kota yang dulu disebut-sebut sebagai simbol ruang terbuka hijau dan wajah ramah Kota Bontang: Taman Adipura dan Taman Bontang Kuala-Edukasi.

Letaknya tak jauh dari stadion. Tapi yang saya temukan justru menyisakan keprihatinan. Terutama saat tiba di Taman Bontang Kuala-Edukasi—sebuah taman yang dulu digagas sebagai ruang belajar terbuka, kini tampak redup, nyaris seperti ditinggalkan.

Taman Adipura menjadi lokasi pertama yang saya datangi. Aksesnya melalui Jalan KS Tubun, lalu belok ke Jalan Balsalt. Sekitar 150 meter dari simpang jalan, taman itu tampak dari kejauhan.

Dulu tempat ini dibanggakan karena menghadirkan perpaduan antara elemen hijau kota, sarana rekreasi publik, dan fasilitas edukatif yang menunjang interaksi sosial warga.

Darnan menunjukkan, salah satu alat olahraga di Taman Adipura terlihat rusak dan membahayakan.

Fasilitasnya tergolong lengkap. Pos penjagaan, mini theatre, gazebo nyaman, toilet umum, area terapi kaki, Wi-Fi gratis, spot swafoto, hingga status sebagai Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Bahkan sejak 2018, taman ini dilengkapi dengan alat-alat fitnes outdoor dan pernah menjadi titik favorit warga untuk olahraga pagi maupun sore hari.

Anggaran pembangunan taman ini tidak kecil. Dana miliaran rupiah digelontorkan dari APBN dan APBD untuk mendukung terciptanya ruang terbuka hijau representatif. Luasnya lebih dari 1 hektare, termasuk pembangunan jembatan penghubung serta penambahan berbagai elemen rekreasi dan edukasi.

Gerbangnya memang masih berdiri, tetapi catnya mulai pudar. Di dalamnya, alat bermain anak-anak tampak lusuh. Ada yang berkarat, sebagian patah, bahkan beberapa hilang.

Saya ditemani Darman, Direktur Radar Bontang, menyusuri area taman. Ia sempat menjajal salah satu alat fitnes yang tersedia. Baru disentuh sebentar, bautnya goyah dan struktur besinya terasa tajam.

READ  Saat Kritik Dibalas Doxxing, Siapa Melindungi Ruang Demokrasi Kita?

“Coba lihat ini, Bos. Goyang semua. Kalau anak kecil sampai jatuh atau kejedot, bisa luka,” ujarnya sambil menunjukkan.

Padahal, taman ini masih ramai dikunjungi. Anak-anak tetap bermain. Ibu-ibu berolahraga. Remaja nongkrong. Tapi di balik keceriaan itu, tersembunyi banyak risiko. Lantai licin, fasilitas aus, hingga pencahayaan yang redup. Citra “Adipura” masih melekat, tapi kondisinya hari ini mengisyaratkan perlunya perhatian lebih serius.

Kami lalu melanjutkan ke Taman Bontang Kuala-Edukasi. Letaknya, sebelum gerbang masuk kawasan Bontang Kuala, ada jalan cukup besar belok ke arah kantor Kelurahan Bontang Kuala. Taman ini berdiri tepat di sisi kantor, hanya dipisahkan jalan kecil.

Tembok tempat berdirinya plang nama masih ada, tapi cat biru dan kuningnya mulai terkelupas. Huruf-huruf metalik yang dulunya berkilau, kini kusam dan berkarat. Bahkan nyaris tak terbaca. Dari kesan pertama saja, sudah terasa muram.

Jalur pedestrian di Bontang Kuala Edukasi, dari conblock bergelombang, licin, dan tak nyaman dilalui.

Saat melangkah masuk, kesan itu semakin kuat. Tanaman liar tumbuh tanpa kendali. Jalur pedestrian dari conblock bergelombang dipenuhi lumpur. Bahkan ada yang terangkat. Gazebo rapuh. Semua memberi kesan taman ini tak lagi dipedulikan.

Padahal sejak dibangun pada 2021, taman ini digagas dengan konsep mulia: sebagai ruang edukasi lingkungan. Ia menggabungkan unsur konservasi mangrove, budaya pesisir, dan aktivitas belajar terbuka.

“Dulu saya sering ajak keluarga duduk-duduk di sini. Gazebonya adem. Tapi karena sering kena banjir rob, lama-lama rusak semua,” kata Darman mengenang.

Intrusi air laut kini menjadi ancaman nyata. Saluran air rusak. Jalan setapak ke area belakang yang dirancang sebagai jalur edukasi mangrove nyaris tak bisa dilalui. Lumpur dan endapan pasang laut mendominasi. Bekas genangan menjadi bukti bahwa taman ini bukan hanya terlupakan, tapi juga kalah oleh alam.

READ  Walikota Samarinda Golf Open 2026, Ketat Sejak Tee Pertama

Padahal, Bontang beberapa kali meraih Adipura, bahkan Adipura Kencana. Taman-taman ini dibangun untuk mendukung reputasi itu.

Bontang tidak kekurangan ruang hijau. Mungkin yang berkurang justru semangat merawatnya. Kalau dibiarkan, taman-taman ini hanya akan jadi bangunan usang. Bukan lagi ruang bermain, belajar, atau tempat warga berkumpul. (*)

Oleh: Agus Susanto

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img