Minggu (13/7/2024). Setelah lebih dari dua tahun, akhirnya saya kembali berkesempatan untuk berkunjung kembali ke Gua Binuang di Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Padahal, semasa kuliah saya cukup sering berkunjung ke sana. Bisa dua kali atau lebih dalam setahun. Saya rutin ke sana karena tempat itu selalu digunakan sebagai tempat praktik caving (penelusuran gua), saat pendidikan dasar pencinta alam di kampus Unikarta.
Meski saya tidak selalu ikut penjelajahan di dalam gua, rasanya saya cukup familiar dengan kawasan tersebut. Hal itu disebabkan karena saya sering mendapat jatah memantau cuaca di luar gua. Tugas yang membosankan, tapi itu merupakan bagian dari prosedur keamanan untuk memastikan penjelajahan berlangsung aman. Mengingat Gua Binuang merupakan gua basah yang dialiri sungai bawah tanah.
Kunjungan saya kali ini juga tidak jauh-jauh dari kegiatan Mapala. Kebetulan hari ini Wamapala Unikarta menggelar kegiatan pembersihan sampah di dalam Gua Binuang. Saya melibatkan diri dalam kegiatan ini bermaksud untuk liburan sambil liputan di akhir pekan.
Dibanding dengan beberapa tahun lalu, akses menuju Desa Sanggulan jauh lebih baik karena ruas jalannya sudah disentuh semenisasi. Kini bisa ditempuh hanya dalam 45 menit dari Kota Tenggarong. Dulu sebelum jalannya disemen, perjalanan menuju Sanggulan terbilang merepotkan. Masih jelas dalam ingatan saya saat jalan yang dilalui adalah bekas jalan hauling perusahaan batu bara yang didominasi tanah merah. Berdebu saat kering dan berlumpur saat hujan.
Saya berangkat sekitar pukul 09.00 pagi, mulanya saya berpikir sudah cukup terlambat, ternyata saat saya tiba di lokasi, kegiatan tertunda. Pasalnya ada stasiun televisi lokal yang sedang taping di lokasi tersebut. Meski harus menunggu cukup lama, saya bersyukur, setidaknya saya tidak ketinggalan agenda.
“Kegiatan kalian habis ini ya, selesaikan rongrongan ini dulu,” sebut seorang senior yang juga merupakan pemandu wisata di Gua Binuang.
“Siap bang,” sahut saya sambil menjabat tangannya, seraya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke bibir gua.
Perjalanan dari parkiran kendaraan menuju bibir gua terbilang cukup dekat, mungkin hanya sekitar 400 meter. Hanya saja jalannya menurun cukup curam, sangat menjengkelkan dan selalu saya keluhkan saat jalan pulang.
Di lokasi ini terdapat dua gua, hanya saja gua di bagian atas buntu dan tidak terlalu dalam, tapi diapit oleh tebing batuan yang curam. Tidak terlalu banyak ornamen di dalamnya, tapi saya masih ingat dulu masih ada ornamen gua yang masih tumbuh di sana. Sayangnya, sekarang sudah berhenti tumbuh, mungkin karena kerap disentuh oleh pengunjung.
Sementara itu, gua yang sering dijadikan tempat penelusuran ada di bagian bawah, jalan menurunnya lebih curam. Tapi semenjak dikembangkan menjadi destinasi wisata pada 2023 lalu, jalannya telah diperbaiki. Bahkan kini sudah ada gazebo dan toilet umum yang sempat mengejutkan saya. Karena terakhir kali saya ke sini belum ada fasilitas umum apa pun.
Mendekat ke Gua Binuang, bau yang menyerupai amonia menyengat. Itu adalah aroma kotoran kelelawar, teman-teman biasa menyebutnya “gua no”.
Di dekat gazebo suara tak asing memanggil saya, sekitar 30 meter dari gazebo ada area perkemahan. Peserta pembersihan gua telah berkumpul di sana, lengkap dengan tenda dan hammock yang sudah bergantungan karena mereka memang telah di lokasi sejak kemarin.
Barangkali mereka tidak percaya satu sama lain jika harus pergi sejak pagi dari rumah masing-masing, makanya agenda ditambah dengan sesi camping ceria.
Lokasi mereka camping persis didepan Gua Binuang memiliki mulut yang lebar. Seperti senyuman yang menyambut pengunjung yang datang. Suasana di luar gua sangat sejuk, dipayungi pepohonan tinggi menjulang dan dihiasi gemercik air serta suara burung yang menawarkan kesejukan.
Sejujurnya saya kurang familiar dengan nama Gua Binuang, karena kami biasa menyebutnya Gua Sanggulan seperti nama desa gua itu berada. Meski gua ini terlihat bersahabat dan menyenangkan dari luar, suasana berbeda akan dirasakan setiap pengunjung yang datang. Bau amonia yang menyengat dan kondisi gua yang basah menambah tegang perjalanan selama menyusuri gua.
Di bagian depan, pengunjung akan langsung disambut dengan ornamen besar yang menggantung di langit-langit gua. Seperti sebuah trailer film yang memberikan gambaran singkat bagaimana keindahan dunia di dalam gua yang sudah pasti tidak akan ditemui di luar.
Karena gua ini merupakan gua basah yang dialiri sungai bawah tanah, setiap penjelajah sudah pasti akan terendam air selama eksplorasi. Air yang dingin, bau amonia yang menyengat dan suasana yang semakin dalam semakin gelap membuat perjalanan makin menegangkan.
Sebagian pengunjung biasanya langsung menyerah di bagian awal, tapi mereka yang menyukai tantangan pasti akan dibuat semakin penasaran menyusuri tiap kelokannya.
Gua ini memiliki jalur pendek sekitar 300 meter. Tapi di dalamnya terdapat banyak percabangan yang menyerupai labirin bertingkat-tingkat. Panjang totalnya diperkirakan mencapai 2 kilometer.
Bahkan ada cerita warga setempat yang mengatakan bahwa ada petilasan di dalam. Tapi untuk sampai ke sana harus menyelam, sayangnya belum pernah ada yang sampai titik itu karena kurang peralatan.
Sembari menunggu giliran untuk berkegiatan, teman-teman menghabiskan waktu sambil berbincang di perkemahan. Kisah mereka didominasi perjalanan mereka saat mendaki Rante Mario bulan lalu.
Setelah sekitar 3 jam menunggu, akhirnya rombongan stasiun televisi keluar dari mulut gua. Dari jauh terdengar kisah mereka yang dibalut dengan decak kagum tanpa mempedulikan pakaian mereka yang basah total.
Di sisi lain peserta kegiatan mulai menyiapkan peralatan, mereka mulai mengecek pelampung, helm, dan juga senter. Karena kegiatan ini adalah penelusuran sekaligus pembersihan sampah, rombongan masuk dengan membawa trash bag untuk mengangkut sampah.
Tim dibagi menjadi dua, 9 orang melakukan penyusuran dan pembersihan dan sisanya di luar memantau cuaca sembari menyiapkan konsumsi. Karena tidak membawa pakaian ganti, saya kembali tidak ikut menelusuri gua dan hanya mengambil gambar untuk keperluan liputan.
Dalam kegiatan ini, kebetulan saya berjumpa dengan Kepala Desa (Kades) Sanggulan, Fahruddin di bibir gua. Tampak ia turut mengantarkan rombongan stasiun TV untuk typing. Saya berkesempatan untuk berbincang dengannya.
Kepada saya, ia mengisahkan bahwa wisata ini dimulai sejak 2023, dan kini terus dilakukan secara bertahap. “Gua Binuang ini sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi bukan milik desa secara langsung. Ini milik masyarakat, milik pihak pertama. Sekarang sudah kita kerjasamakan, dan pengelolaannya diserahkan ke Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis),” ungkap Fahruddin.
Melalui anggaran desa, beragam perlengkapan penunjang wisata telah dihadirkan, seperti helm keselamatan, pelampung, senter, dan sepatu pelindung. Ini penting, mengingat adanya aliran sungai di dalam gua yang bisa mencapai kedalaman lebih dari dua meter. Tak hanya fasilitas fisik, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi prioritas. Fahruddin menegaskan pentingnya pelatihan bagi anggota Pokdarwis, mengingat medan gua cukup menantang.
“Pokdarwis memang perlu peningkatan kapasitas karena tempat ini cukup berbahaya untuk aktivitas seperti ini, jika tidak didukung pengetahuan dan SDM yang memadai. Kami butuh pelatihan-pelatihan, baik bekerja sama dengan dinas pariwisata maupun melalui anggaran dari APBD desa,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini, ia juga turut mengapresiasi aksi pembersihan gua Binuang yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa pencinta alam. Fahruddin mengatakan bahwa komunitas pencinta alam memang sudah aktif berkegiatan di gua Binuang sejak lama, bahkan sebelum kawasan ini dibuka sebagai objek wisata.
“Kami sangat berterima kasih sekali kepada teman-teman Mahasiswa, khususnya Mapala yang telah membantu kami membersihkan gua ini,” tuturnya. (Adv)
Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Muhammad Rafi’i


