Longsor di Desa Batuah Hancurkan 40 Rumah Warga, Jalan Sempat Terputus

TENGGARONG – Malam yang kelam berubah menjadi kepanikan di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar). Sabtu (17/5/2025) malam, tanah longsor besar meluluhlantakkan permukiman warga di KM 28 jalan poros Samarinda–Balikpapan. Setidaknya ada sekitar 40 bangunan rumah warga hancur karena peristiwa ini. Meninggalkan puing dan kekhawatiran yang belum mereda hingga kini.

Tanah merah yang labil menyapu rumah-rumah warga dan menyeret sebagian badan jalan utama. Akibatnya, lalu lintas sempat lumpuh, sebelum warga mengambil alih pengaturan jalan secara swadaya dengan sistem buka tutup. Antrean panjang kendaraan tak terhindarkan, sementara polisi yang datang hanya sesekali membantu.

“Sudah dari malam Minggu kami jaga jalan ini,” kata salah satu warga, sembari memantau arus kendaraan yang lewat perlahan di sela-sela tumpukan longsoran, Senin (19/5/2025).

Di tengah kerusakan fisik, kepanikan lain muncul. Retakan baru mulai terlihat di lereng yang tak jauh dari lokasi longsor utama. Ancaman longsor susulan menghantui, memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Wati, salah seorang korban longsor, mengungkapkan bahwa tanda-tanda bencana sebenarnya telah muncul jauh hari. “Awalnya cuma retak-retak. Tapi makin lama makin terasa rumah seperti goyang. Terakhir, rumah kami ambruk,” ujarnya dengan mata sembab.

Sementara itu, Ketua RT 25, Dusun Tani Jaya, Idris, menyebut bahwa warga sebenarnya sudah berulang kali melaporkan kondisi tersebut ke pemerintah desa dan instansi terkait. Ia sendiri menjadi korban karena rumahnya turut terdampak.

“Ada rencana relokasi dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim). Lahannya masih di Dusun Tani Jaya juga. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Masih nunggu kajian kelayakan dari mereka,” terangnya.

Peneliti dari Universitas Mulawarman yang melakukan survei awal menyebut longsor sebagai bencana alam murni. Namun, di kalangan warga berkembang dugaan bahwa aktivitas pertambangan di sekitar desa turut memperburuk kondisi geologis tanah.

READ  Embung 6 Ha Disiapkan di Desa Suka Maju, Solusi Irigasi Pertanian yang Lama Dinanti Petani

“Warga banyak bertanya-tanya, kok bisa separah ini. Ada yang curiga tambang di sekitar sini berpengaruh,” tambah Idris.

Semenjak kejadian ini, Idris mengaku pemerintah baik di tingkat kabupaten maupun provinsi telah melakukan peninjauan lokasi. Namun sampai saat ini warga masih belum menerima kepastian akan nasib mereka.

“Kasian warga, saya ini juga korban karena runah saya juga ikut ambruk. Kami minta langkah nyata, apalagi buat yang rumahnya sudah nggak bisa ditempati,” tutup Idris.

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img